Evaluasi Efektivitas Koagulan-Flokulan Alternatif dalam Pengolahan Air Asam Tambang pada PT Mustika Indah Permai, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan
PT Mustika Indah Permai (MIP), perusahaan tambang batu bara di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan air asam tambang (AAT) dengan kadar Total Suspended Solids (TSS) yang sangat tinggi, mencapai hingga 149.530 mg/L. Kondisi ini diperparah oleh tingginya curah hujan pada kuartal I 2024 sebesar 1.953,5 mm, yang diprediksi berulang pada kuartal I 2025. Kenaikan volume air di sump berdampak pada perlambatan sedimentasi, keterbatasan efektivitas pompa, serta meningkatnya risiko limbah tidak memenuhi baku mutu. Metode konvensional menggunakan kombinasi tawas dan kapur memerlukan waktu pengolahan hingga 16 jam dan menghasilkan lumpur yang sulit diolah di Kolam Pengendapan Lumpur (KPL). Penelitian ini bertujuan untuk: (1) membandingkan efektivitas koagulan-flokulan sintetis dengan metode tawas-kapur dalam menurunkan kadar TSS hingga di bawah 300 mg/L, (2) menganalisis pengaruhnya terhadap peningkatan Equivalent Water Handled (EWH) pada unit pompa, dan (3) mengevaluasi efisiensi biaya pengolahan air tambang dalam kondisi ekstrem. Metode yang digunakan meliputi uji laboratorium terhadap sampel AAT selama periode observasi September hingga Desember 2025, serta simulasi perbandingan biaya aktual pada bulan Januari 2025 sebagai representasi beban tertinggi akibat musim hujan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan koagulan-flokulan mampu meningkatkan volume air yang diolah hingga 6 kali lipat, serta memperpanjang durasi operasional pompa dari rata-rata 300 jam menjadi lebih dari 1.200 jam per bulan. Secara teknis, metode ini berhasil menurunkan TSS hingga di bawah ambang baku mutu (<300 mg/L) dan meningkatkan efisiensi dewatering, yang berkontribusi pada peningkatan produksi batu bara hingga 2.564.685 ton (102,59% dari target kuartal I 2025). Dari sisi ekonomi, koagulan-flokulan menunjukkan efisiensi biaya sebesar Rp 41,6 juta dibandingkan metode tawas-kapur, dengan rata-rata biaya treatment hanya 0,15% dari total pendapatan batu bara. Temuan ini menegaskan bahwa optimalisasi pengelolaan AAT melalui chemical treatment tidak hanya menjamin kepatuhan lingkungan, tetapi juga mendukung produktivitas dan keberlanjutan operasional tambang.