Pemanfaatan Bio-Aktivator Mikroorganisme Lokal dari Sisa Nasi dan Sisa Sayuran pada Pengomposan Sampah Dapur dengan Metode Takakura
Sampah merupakan salah satu sumber masalah yang signifikan di indonesia. Banyaknya timbulan sampah di indonesia sebesar 70% adalah sampah organik. Salah satu penyumbang sampah organik adalah sampah dapur. Pengomposan menjadi metode efektif dan ramah lingkungan untuk mengurangi volume sampah organik ini. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kematangan fisik dan kualitas makro kompos dari sampah dapur menggunakan metode Takakura. Penelitian ini membandingkan hasil pengomposan dengan penambahan aktivator EM4, mikroorganisme lokal (MOL) dari sisa nasi, MOL dari sisa sayuran, dan kombinasi keduanya, dibanding kontrol tanpa aktivator. Proses pengomposan menggunakan campuran 50% (1 kg) sampah dapur dan 50% (1 kg) kompos jadi, dengan 5 ml aktivator ditambahkan pada masing-masing perlakuan. Lima variasi perlakuan digunakan, variasi I (tanpa aktivator), variasi II (EM4), variasi III (MOL sisa nasi), variasi IV (MOL sisa sayuran), dan variasi V (kombinasi MOL sisa nasi dan sayuran). Selanjutnya di lakukan penilaian menggunakan metode skoring berdasarkan parameter kematangan fisik (suhu, pH, tekstur, warna, dan bau) serta parameter kualitas makro (kandungan N, P, K, dan rasio C/N). Hasil penelitian mengindikasikan, semua variasi telah memenuhi standar mutu kompos berdasarkan SNI 19-7030-2004. Penambahan aktivator secara signifikan memengaruhi waktu pengomposan, tingkat kematangan, dan kualitas makro kompos. Variasi V menunjukkan hasil terbaik dengan skor total 13 dan lama pengomposan 8 hari. Keunggulan variasi V ini disebabkan oleh kandungan mikroorganisme yang lebih beragam dan lebih tinggi, menjadikannya pilihan terbaik dari segi kematangan fisik dan kualitas makro.