Abstrak
Indonesia merupakan negara yang terus berkembang perekonomiannya, terutama dibidang pariwisata, kota Padang sebagai salah satu kota dengan destinasi wisata yang tersebar luas menjadi daya tarik tersendiri guna menarik perhatian wisatawan baik domestik maupun internasiona. Sovenir yang sering dicari dan terkenal adalah “Sanjai” yang terrbuat dari ubi kayu atau singkong. Salah satu industri pangan yang memanfaatkan singkong atau ubi kayu yang berkembang dengan baik di Kota Padang adalah IKM Keripik Balado Saat ini, pemilik IKM belum memiliki upaya yang berarti guna mengolah limbah kulit singkong yang menumpuk tiap harinya tersebut.Kulit singkong yang dihasilkan berpotensi menimbulkan pencemaran bagi lingkungan. Oleh karena itu dibutuhkan solusi alternatif dalam pengolahan limbah kulit singkong, salah satunya sebagai bahan baku briket kulit singkong. Dilihat dari nilai kalor pembakaran dari kulit singkong yaitu 3.843,84 kalori/gram, maka kulit singkong berpotensi untuk dijadikan bahan baku pembuatan briket arang, namun, nilai kalor tersebut masih berada di bawah nilai kalor yang di syaratkan dalam SNI briket arang kayu . Untuk menaikkan nilai kalor pada kulit singkong maka dilakukan kombinasi dengan tempurung kelapa. Didalam penelitian ini menggunakan tiga metode yaitu menggunakan metode Uji ISO 1928:2009 E bertujuan untuk menganalisa nilai kalor, metode Uji ISO 11722:2013 E bertujuan untuk menganalisa kadar air, dan metode Uji ISO 1171:2010 E bertujuan untuk menganalisa kadar abu.Komposisi terbaik dengan penambahan tempurung kelapa terhadap kualitas briket kulit singkong didapatkan pada variasi kulit singkong 50%, tempurung kelapa 50% dan perekat tapioka 3,5% yang memiliki nilai kalor sebesar 5.434 kal/g, kadar air sebesar 2.550 % dan kadar abu sebesar 24.26 %.