Lewati ke konten utama
Beranda / Koleksi

COLLECTION

Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Koleksi otomatis dari Skripsi/Tugas Akhir

671 item publik

Publikasi

Halaman 27 dari 34

Kajian Crown Subsidence dan Horizontal Displacement pada Lubang BMK 14 Tambang Batubara Bawah Tanah CV. Bara Mitra Kencana, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat

JEFRIUS
2018 · Thesis · Open Access

Tambang bawah tanah memerlukan pemantauan terhadap kestabilan batuan di sekitar terowongan, karena batuan yang dibongkar akan mengalami perubahan terhadap kekuatan dan bentuk batuan itu sendiri. Kestabilan pada terowongan adalah satu hal yang harus dipantau, hal ini diperlukan agar dapat meminimalisir terjadinya ambrukan atau kecelakaan pada tambang. Pada tambang batubara bawah tanah di lubang BMK 14 CV. Bara Mitra Kencana terdapat beberapa penyangga yang retak atau patah. Dibeberapa cabang penambangan terjadi runtuhan atau ambrukan, hal ini tentunya akan sangat berbahaya bagi para pekerja. Untuk mencegah terjadinya ambrukan perlu tindakan untuk memantau pergerakan atap terowongan, dari data pergerakan tersebut dapat diambil langkah cepat kapan saatnya dilakukan penyangga dan jenis penyannga apa yang sesuai dengan pergerakan atap terowongan tersebut, sehingga ambrukan tambang dapat di antisipasi. Salah satu cara agar dapat mendeteksi pergerakan atap dan dinding terowongan itu adalah dengan membuat alat menggunakan sensor, yaitu sensor ultrasonik ping.Sensor ultrasonik ping ini dapat digunakan untuk mengukur jarak lebih dari 3 cm dan kurang dari 300 cm. Hasil pengukuran pergerakan crown subsidence dan horizontal displacementpada CV. Bara Mitra Kencana selama 5 hari yaitu, untuk pengukuran horizontal displacement pada stasiun 1 tidak terjadi pergerakan sedangkan pada stasiun 2 terjadi pergerakan sebesar 1mm. Pada pengukuran pergerakan crown subsidencestasiun 1 terjadi pergerakan sebesar 1 mm di pengukuran ke 2 pagi , 1 mm pada pengukuran ke 3 pagi, 1 mm pada pengukuran 3 sore, 1 mm pada pengukuran ke 4 sore , 1 mm pada pengukuran ke 5 pagi dan terjadi runtuhan pada pengukuran ke 5 sore. Untuk stasiun 2 pergerakan terjadi pada pengukuran ke 2 pagi sebesar 1 mm, 1 mm pada pengukuran ke 2 sore dan 1 mm pada pengukuran ke 3 pagi, namun untuk pengukuran selanjutnya tidak ada pergerakan.

Pengaruh Campuran Komposisi Biobriket terhadap Kuat Tekan dan Mutu Biobriket pada Proses Pembakaran

NUR HAMIDAH
2018 · Thesis · Open Access

Meningkatnya penggunaan batubara sebagai bahan bakar menghasilkan limbah padat dari sisa batubara yang terbakar yaitu bottom ash dan fly ash. Bottom ash yang memiliki nilai kalor dapat dimanfaatkan dengan mengolahnya menjadi briket dan dicampur dengan jerami padi. Jerami padi memiliki potensi yang cukup besar dan dapat digunakan sebagai salah satu campuran bahan biobriket. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan komposisi yang tepat antara bottom ash dan jerami padi serta pengaruh jumlah bahan perekat terhadap nilai kuat tekan. Pengujian kalori biobriket menggunakan alat bom kalorimeter dan untuk mendapatkan nilai kuat tekan dilakukan dengan pengujian menggunakan alat point load indeks. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu variasi jumlah campuran antara bottom ash dan jerami padi. Jerami padi harus dikarbonisasi terlebih dahulu sedangkan bottom ash dipisah dari pengotornya. Nilai kalori yang paling tinggi diperoleh dari pengujian pada campuran bottom ash: jerami padi adalah campuran 50:50 2492 cal/gr, dengan kadar air 22.99% dan kadar abu 24,28%. Untuk nilai korelasi hubungan kuat tekan dengan jumlah penggunaan perekat mempunyai hubungan sangat erat dan hampir sempurna yaitu 0.941.

Evaluasi Geometri Jalan Produksi dari Front ke Disposal Terhadap Produktifitas Alat Angkut Hino 500 FM, 260 TI pada Kegiatan Penambangan Overburden di PIT Central Timur pada PT. Allied Indo Coal Jaya, Parambahan Kec. Talawi, Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat

EDO PRATAMA PUTRA
2018 · Thesis · Open Access

Operasi pengangkutan pengupasan OverBurden ke Disposal PT. Allied Indo Coal Jaya menggunakan Dump Truck Hino 500 FM, 260 Ti. Operasi pengangkutan memegang terhadap target produksi. Keamanan dan kelancaran operasi pengangkutan tidak pernah lepas dari interaksi antara jalan angkut dan alat angkut itu sendiri. Geometri jalan angkut di pit central timur PT. Allied Indo Coal Jaya belum memenuhi syarat jalan angkut tambang yang baik, diperoleh data lebar jalan yang sebenarnya di lapangangan untuk 2 jalur adalah lebar jalan lurus 7,2 m, lebar jalan pada tikungan 15,8 m, jari-jari pada tikungan 11 m, superelevasi 0,63 m/m dan grade pada jalan tanjakan 13% - 19%. Karena grade jalan yang tinggi dan adanya goemetri jalan yang kecil, maka cycle time jadi bertambah yaitu sebesar 622 detik, mengakibatkan produksi berkurang, produktifitas alat angkut sebelum perbaikan jalan adalah 31,03 bcm/jam, selain itu tidak ada saluran penirisan di tepi jalan angkut tambang, yang mengakibatkan badan jalan angkut tambang tergenang air pada saat hujan. Oleh karena itu di lakukan evaluasi geometri jalan terhadap produktifitas alat angkut pada pit central timur di PT. Allien Indo Coal Jaya, untuk keamanan dan kelancaran operasi pengangkutan. Berdasarkan spesifikasi alat angkut terlebar yaitu Hino 500 FM, 260 Ti diperoleh lebar jalan angkut minimum untuk dua jalur pada jalan lurus adalah 8,61 m, pada jalan tikungan yaitu 17,11 m, jari-jari tikungan yaitu 8,8 m, superelevasi atau kemiringan pada tikungan adalah 0,55 m/m, grade jalan yang akan digunakan 11% - 12%, dan cross clope pada bagian tengah jalan yaitu 17,2 cm. Dan produksi alat angkut sesudah melakukan perbaikan jalan mengalami peningkatan, di dapat cycle time alat angkut yaitu 363 detik, kapasitas persiklus yaitu 9,12 m3, dan produktifitas dump truck Hino 500 FM, 260 Ti yang berproduksi dari front penambangan ke disposal dengan jarak 652 meter, yaitu sebesar 61,41 bcm/jam.

Analisis Ground Vibration Terhadap Jarak dan Jumlah Isian pada Kegiatan Peledakan Menggunakan Alat Sensor Getaran YMS11 pada Front Peledakan di PT. Semen Padang Bukit Karang Putih, Indarung, Sumatera Barat

YOGIK VRASETIYA
2018 · Thesis · Open Access

PT. Semen padang adalah salah satu prusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, dengan memakai sistem tambang terbuka. Kegiatan penambangan menggunakan sistem peledakan dalam proses penambangannya. Pada kegiatan peledakan ditemukan beberapa masalah. Getaran yang tinggi menyebabkan material-material lereng yang runtuh, jumlah isian yang tidak dikontrol akan menghasilkan getaran yang besar. selain itu belum adanya pengecekan getaran tersebut untuk setiap kali peledakan, oleh karna itu perlunya pengontrolan getaran pada kegiatan peledakan PT. Semen padang. Dalam penelitian ini dilakukan rancangan alat yang berbasis arduino uno untuk mendeteksi getaran pada kegiatan peledakan. Untuk mengukur getaran dilakukan 3 lokasi pengamatan yang memiliki jarak berbeda 100 m, 200 m, dan 300 m dari sumber getaran selain itu juga memvariasikan jumlah isian bahan peledak yang berbeda. Setelah dilakukan pengontrolan menggunakan alat arduino uno didapatkan pengaruh jarak tehadap getaran. Pada jarak 100 m didapatkan nilai PPV sebesar 3.02 mm/s, SD= 1.66 m/kg, konstanta 0.1421 dan jarak 200 m didapatkan nilai PPV sebesar 0.03 dan SD=5 m/kg pada jarak 300 didapatkan nilai PPV sebesar 1.13 mm/s dan SD=5.47 m/kg. adapun pengaruh isian peledakan terhadap getaran (PPV) yaitu dengan isian 3600 kg didapatkan nilai PPV sebesar 3.01 mm/s sedangkan pada isian 1600 kg didapatkan PPV sebesar 1.13 mm/s dan isian 3000 kg di dapat PPV sebesar 0.33 mm/s menggunakan hasil perhitungan peak particel velocity dan grafik logaritma dari perbandingan jarak terhadap PPV di dapat persamaan empiris adalah y = -2.598In(x) + 14.728 dan R2 0.8602 nilai ini memiliki hubungan kuat karna nilai tersebut mendekati 1 (satu). Sedangkan perbandingan isian terhadap PPV persamaan empiris y = 2.8488In(x) – 21.261 dan R2 0.5456. nilai ini memiliki hubungan yang sedang karna nilai tersebut menjauhi dan mendekati 1 (satu).

Analisis Konsentrasi Gas CO dan Temperatur Udara pada Tambang Bawah Tanah PT. Allied Indo Coal Jaya Kecamatan Talawi Kota Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat

LEO AFRENDRA
2018 · Thesis · Open Access

Gas CO (Karbon monoksida) adalah gas yang tidak berwarna dan tidak berbau, tetapi sangat beracun bila terhirup dalam jumlah yang cukup besar atau dalam waktu yang lama juga mudah terbakar. apabila tidak adanya kajian khusus untuk Gas CO dan temperatur udara maka sewaktu-waktu bisa terjadi nya kecelakaan bagi para pekerja di dalam tambang tersebut dan akan mengakibatkan kerugian terhadap perusahaan itu sendiri dan bahkan kematian bagi para pekerjanya. Untuk menanggulangi hal tersebut maka dirancang dan dibangun alat yang mampu memantau dan memonitoring gas CO dan temperatur udara yaitu alat sensor gas CO dan Temperatur udara pada tambang bawah tanah berbasis Arduino Mega, sehingga didapatakan Gas CO terhadap waktu yang tinggi pada stasiun 1 yaitu sebesar 11,17 ppm dan yang rendah 9,80 ppm dengan persamaan y= -0.042x + 11.03 dan R² = 0.208. dan waktu terhadap temperatur udara yang nilai tinggi yaitu 24 derajat celcius dan yang terendah yaitu 22 derajat celcius dengan persamaan y = -0.035x + 23.55 dan R² = 0.051. pada stasiun 2 di dapatkan gas CO terhadap waktu yang paling tinggi yaitu 11,35 ppm dan yang rendah 6.90 ppm dengan persamaan y = -0.036x + 9.701 dan R² = 0.015 dan waktu terhadap temperatur udara pada stasiun 2 yang tinggi yaitu 24 derajat celcius dan yang rendah yaitu 20 derajat celcius dengan persamaan y = 0.046x + 21.69 dan R² = 0.028. Gas CO terhadap kecepatan angin yang tinggi pada stasiun 1 yaitu sebesar 11,17 ppm dan yang rendah 9,80 ppm dengan persamaan y = 3.938x + 7.152 dan R² = -4E-1. dan kecepatan angin terhadap temperatur udara yang nilai tinggi yaitu 24 derajat celcius dan yang terendah yaitu 22 derajat celcius dengan persamaan y = 19.33x + 5.867 dan R² = -3E-1. pada stasiun 2 di dapatkan gas CO terhadap kecepatan angin yang paling tinggi yaitu 11,35 ppm dan yang rendah 6.90 ppm dengan persamaan y = 3.740x + 5.298 dan R² = 8E-15 dan kecepatan angin terhadap temperatur udara pada stasiun 2 yang tinggi yaitu 24 derajat celcius dan yang rendah yaitu 20 derajat celcius dengan persamaan y = 7.491x + 13.82 dan R² = 4E-14

Analisis Kestabilan Lereng PIT B pada Tambang Batubara PT. Miyor Pratama Coal di Desa Kumanis Atas Perambahan Kecamatan Talawi Kota Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat

ALEXANDER
2018 · Thesis · Open Access

Lereng merupakan kondisi topografi yang banyak ditemukan di pekerjaan kontruksi sipil, lereng bisa terbentuk secara alami atau buatan manusia dengan beberapa tujuan. Analisis kestabilan lereng mempunyai peran penting untuk perencanaan kontrkusi sipil. Penulis menemukan beberapa masalah yang terjadi di lapangan, yaitu ditemukan kelongsoran dilereng pit B PT. Miyor Pratama Coal. Lereng yang terlalu curam dengan kemiringan 〖45〗^° dan ketinggian mencapai 65 meter. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan kelas massa batuan RMR (rock mass rating) di pit B dan juga menentukan faktor keamanan dari lereng pit B PT. Miyor Pratama Coal. Metode pada penelitian ini adalah untuk menentukan faktor keamanan dengan menggunakan dua metode, yaitu dengan metode Janbu dan metode Bishop. Analisis dari faktor keamanan dibantu oleh program slide 6.0 Hasil dari penelitian adalah kelas massa batuan menurut RMR (rock mass rating) diperoleh tergolong kelas III (sedang) dengan bobot 51. Untuk faktor keamanan lereng di pit B dengan metode janbu di ketahui FK = 2.180 dan dengan metode bishop di ketahui = 2.093.

Analisis Kestabilan Lereng Berdasarkan Kualitas Massa Batuan Rock Mass Rating (RMR) di Sekitar Lubang Bukaan BMK 17 Tambang Batubara CV. Bara Mitra Kencana Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat

M. IKHWAN
2018 · Thesis · Open Access

CV. Bara Mitra Kencana adalah perusahaan tambang yang menerapkan sistem tambang bawah tanah. Lubang bukaan BMK 17 merupakan salah satu lubang tambang yang terdapat di area penambangan CV. Bara Mitra Kencana dimana lubang bukaan BMK 17 dikelilingi oleh lereng. Lereng terbentuk pada saat penggalian untuk pembuatan terowongan. Kemiringan lereng 79˚, terdapat kekar, jenis batuan penyusun lereng yang berbeda beda, terdapat longsoran kecil di sekitar lereng dan aktivitas operasional tambang sangat dekat jaraknya dengan lereng. Analisis kestabilan lereng diperlukan untuk mengetahui nilai faktor keamanan dari lereng menggunakan metode Hoek and Bray dan metode Janbu Simplified. Standar nilai faktor keamanan ditetapkan ≥ 1,25 (Joseph E. Bowles, 2000). Dalam menganalisis kestabilan lereng tidak terlepas dari massa batuan itu sendiri sebagai data masukan untuk menentukan nilai faktor keamanan maka kualitas massa batuan menggunakan metode Rock Mass Rating (Bieniawski, 1989). Apabila lereng dalam keadaan tidak stabil maka perlu dilakukan pengkajian mengenai kemiringan lereng yang ideal mengingat kemiringan saat ini cukup terjal. Hasil analisis menyimpulkan bahwa lereng di sekitar lubang bukaan BMK 17 yang terdiri dari batupasir dan batu lanau memiliki nilai RMR 65, berada di kelas II, dengan kualitas batuan baik, kohesi 300-400 kPa, sudut geser dalam 35˚-45˚. Nilai faktor keamanan yang diperoleh menurut metode Hoek and Bray Tan θ/F = 2,67 danF = 2,67 dan C/F = 2,67 danɣ.H.F = 2,76, dan untuk metode Janbu Simflified 3,527. Hasil penelitian menunjukkan nilai faktor keamanan ≥ 1,25 maka lereng dinyatakan aman atau stabil. Sedangkan untuk kemiringan lereng ideal dimana kemiringan lereng saat ini 79˚, menunjukkan bahwa lereng masih dalam keadaan stabil maka tidak perlu dilakukan perubahan geometri ulang kemiringan lereng.

Metode Ordinary Kriging dan Cross Section dalam Penentuan Lama Penggalian Batubara Tambang Terbuka PT. Allied Indo Coal Jaya

VERA SYAFITRI
2018 · Thesis · Open Access

Penentuan jumlah cadangan dan lama penggalian batubara sangat diperlukan, salah satu usaha untuk menentukan jumlah cadangan batubara adalah perhitungan cadangan dengan metode geostatistik dan konvesional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penyebaran ketebalan batubara di PT. Allied Indo Coal Jaya, jumlah cadangan serta lama penggalian batubara.Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah metode ordinary kriging dan cross section. Dari hasil pengamatan dan pengolahan data di lapangan, di ketahui bahwasanya batubara di PT. Allied Indo Coal Jaya cenderung mengelompok padaketebalan yang relatif tebal dengan jumlah cadangan batubara dengan menggunakan metode kriging di dapatkan sebesar 3.740.750 ton. Sedangkann dengan metode cross section sebesar 3.609.114,99 ton. Sedangkan lama penggalian batubara pada PT. Allied Indo Coal Jaya jika digali berdasarkan target produksi 15.000 ton/bulan adalah selama 21 tahun. Sedangkan jika digali berdasarkan produksi aktual dilapangan sebesar 28.828,08 ton/bulan di dapatkan lama penggalian 11 tahun.

Kajian Teknis Sistem Penyangga Pada Lubang D-12 Tambang Batubara Bawah Tanah PT. Dasrat Sarana Arang Sejati (PT. DSAS) Desa Parambahan, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat

RINTO FEBRIAN CANDRA
2018 · Thesis · Open Access

PT. Dasrat Sarana Arang Sejati, merupakan salah satu Perusahaan Tambang Batubara bawah Tanah (underground mining) yang berlokasi di Desa Parambahan, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto.Pada kegiatan tambang bawah tanah di PT. Dasrat Sarana Arang Sejati khususnya untuk lubang maju terdapatnya ambrukan material dan penyangga yang patah akibat tekanan batuan dari atas, samping, kiri dan kanan. Dalam penelitian ini dilakukan kajian teknis sistim penyanggaan kayu menggunakan rumus protodykanop dengan perbandingan beban maksimum dibagi dengan total beban di atas penyangga. Hasil perhitungan didapatlah beban maksimal sebesar 20,8075 ton, jarak rata-rata 1,6 meter total beban di atas peyangga 1,4 (FK> 1). Berdasar hasil analisis tersebut penyangga dapat dikatakan aman.Jarak antar penyangga di lubang maju sebaiknya disamakan, jalur maju antara 1-2 meter dan mengunakan kelas kayu II. Penyangga yang baik untuk lubang maju sebaiknya menggunakan kayu kelas II dan jarak antar penyangga 1 meter agar penyangga aman, dikarenakan semangkin dekat jarak antar penyangga maka nilai faktor keamanannya semangkin besar. Selanjutnya dilakukan perbaikan pada setiap penyangga untuk meminilisir terjadinya insiden pada lubang maju

Perencanaan Sistem Penyaliran Tambang Batubara PT. Indoasia Cemerlang Job Site Kintap, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan

RAHMAH AULIA
2018 · Thesis · Open Access

Salah satu kegiatan penting yang dilakukan pada usaha pertambangan adalah sistem penyaliran tambang. Tujuan penelitian adalah untuk mengendalikan air limpasan yang masuk kebukaan tambang agar proses penambangan tidak terganggu. Metode yang digunakan untuk menghitung curah hujan rata-rata dan volume air limpasan yang masuk ke sumuran serta luas kolam pengendapan lumpur yang dibutuhkan, yaitu dengan menggunakan metode distribusi Log Normal, metode mononobe, dan untuk perhitungan debit limpasan menggunakan metode distribusi dan rasional. Dari hasil penelitian curah hujan rata-rata maksimum pada lokasi penelitian yaitu 3.981,4 mm/tahun, curah hujan rencana diambil periode ulang dua tahun sebesar 12,301 mm/hari serta debit limpasan maksimum yang masuk diestimasikan sebesar 0,727 m³/detik yang akan masuk ke sump. Jumlah air tambang perhari yang dapat diatasi 2.844 m³/jam dengan pompa yang digunakan 6 unit dengan kapasitas 160 liter/detik. Jadi untuk mengendalikan air limpasan yang masuk kebukaan tambang dibutuhkan kapasitas kolam sebagai tempat pengendapan sebesar 19.232,933 m³ dengan waktu pengerukan partikel kolam pengendapan maksimal dapat dilakukan setiap 6 bulan sekali.

Analisis Stand-Up Time Menggunakan Metode Rock Mass Rating dan Faktor Keamanan Menggunakan Metode Finite Element di Lubang Tambang CV. Bara Mitra Kencana 14 Sawahlunto

DANU PRATAMA NUGRAHA
2018 · Thesis · Open Access

Daerah penelitian (CV. BMK) berada di Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis stand up time dan faktor keamanan lubang tambang. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan observasi lapangan dan pengujian di laboratorium. Metode penyelesaian masalah dalam penelitian ini berdasarkan klasifikasi massa batuan dari Bieniawski (1989) yaitu Rock Mass Rating System (RMR) yang terdiri dari kuat tekan batuan utuh (UCS), rock quality designation (RQD), kondisi kekar, kondisi air tanah serta orientasi kekar dan metode numerik yang terdiri dari displacement horizontal, displacement vertikal, total displacement, dan strength factor. Hasil analisis stand-up time berdasarkan parameter di atas dengan menggunakan grafik, didapatkan lamanya batuan dapat menahan tekanan dirinya sendiri tanpa adanya penyangga. Batubara memiliki RMR 55, setelah dilakukan plot pada grafik stand-up time, didapatkan waktu bertahan terowongan selama 700 jam atau 4 minggu lebih 1 jam dengan span 6,2 m. Batulanau memiliki RMR 67, didapatkan waktu bertahan terowongan selama 6500 jam atau 9 bulan dengan span 8,4 m. Analisis faktor keamanan didapatkan nilai dari horizontal displacement maksimum sebesar 4,4 mm sedangkan untuk displacement minimum sebesar -5,0 mm, vertical displacement maksimum sebesar 4,2 mm sedangkan displacement untuk minimum sebesar -4,2 mm dan untuk total displacement sebesar 6,4 mm. Berdasarkan pengolahan data menggunakan software Phase2 didapatkan nilai faktor keamanan sebesar 1,30 yang masuk dalam kategori aman.

Monitoring Temperatur untuk Mencegah Terjadinya Swabakar pada Temporary Stockpile PT. Miyor Pratama Coal Parambahan Kecamatan Talawi Kota Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat

DICKY VALENTINO
2018 · Thesis · Open Access

PT. Miyor Pratama Coal merupakan suatu perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan batubara. Untuk memenuhi kebutuhan para konsumen, produksi harus sesuai dengan permintaan maupun prasyarat yang diinginkan pihak konsumen, terutama kualitas batubara harus sesuai dengan standar yang telah disepakati. Kurang efektifnya cara penanganan batubara pada stockpile, penumpukan batubara pada stockpile dalam jangka waktu yang cukup lama sering mengalami swabakar (spontaneuos combustion) dan batubara kwalitas rendah rentan mengalamiswabakar. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini, dilakukan suatu cara untuk mencegah terjadinya swabakar dengan melakukan monitoring temperatur pada tumpukan batubara perharinya, menggunakan alat pengukur temperatur (Thermo couple TM—902C Range -50˚C - 1300˚C), melakukan analisis dengan ambang titik nyala glow point batubara sesuai dengan kelasnya dan faktor yang mempengaruhi terjadinya gejala swabakar. Titik sampel tertinggi temperatur batubara tumpukan (A) Kalori 6500- 6800 hanya mencapai 60,6°C dan 60,9°C, titik sampel ini sudah melewati standar pengukuran suhu tumpukan batubara namun belum mengalami ignition point atau titik pembakaran dan gejala swabakar belum terjadi, titik ini mempunyai rata-rata temperatur timbunan yaitu 49°C dan 46°C. Namun pada tumpukan (B) Kalori 3000-4000 pada titik ini batubara telah terbakar dengan temperatur mencapai 132,4°C dan 160,4°C, titik sampel ini mempunyai rata- rata temperatur timbunan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan titik-titik sampel lainnya dan titik tersebut telah mengalami ignition point sehingga gejala swabakar terjadi pada titik ini. Gejala swabakar umumnya terjadi pada sisi kaki dari timbunan batubara. Hal ini terjadi karena ukuran butir yang relatif besar akan berada di sisi kaki timbunan batubara. Selain pada sisi kaki timbunan batubara, gejala swabakar juga terjadi di sela-sela penumpukan batubara akibat penanganan yang kurang sempurna pada saat melakukan penimbunan batubara.

Pencucian Batubara Menggunakan Metoda Flotasi untuk Menurunkan Kadar Abu dan Kadar Sulfur Batubara di PT Atoz Nusantara Mining

DANANG SATRIA PRATAMA
2018 · Thesis · Open Access

PT.Atoz Nusantara Mining (ANM), merupakan sebuah perusahaan tambang Batubara dan Andesit, yang terletak di kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat. Tingginya pengotor batubara mengakibatkan menurunya kualitas batubara, salah satu usaha untuk menurunkan kadar abu dan sulfur adalah dengan mencuci batubara tersebut, dan salah satu metoda yang dapat digunakan adalah metoda flotasi. Pencucian batubara menggunakan metoda flotasi dengan campuran minyak tanah, garam dapur, alkohol, dan campuran minyak goreng, garam dapur, dan alkohol. Pada campuran minyak tanah, garam dapur dan alkohol mengalami penurunan kadar abu dan sulfur sebanyak (8,98% dan 13,65%). Sedangkan pada campuran minyak goreng, garam dapur dan alkohol mengalami penurunan kadar abu dan sulfur sebanyak (27,32% dan 26,71%). Pencucian dengan rpm 1.339 lebih bagus dari pada rpm yang lainya. Nilai kalori pencucian dengan campuran minyak goreng, garam dapur dan alkohol naik sebanyak (0,43%), sedangkan pada campuran minyak goreng, garam dapur dan alokohol mengalami penaikkan sebanyak (5,994%).

Analisis Blending Batubara untuk Memenuhi Kriteria Permintaan Konsumen dengan Menggunakan Metode Simpleks di CV. Tahiti Coal, Sikalang Kec. Talawi, Kota Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat

HENDRIONO
2018 · Thesis · Open Access

Kualitas batubara dipengaruhi oleh kondisi geologi suatu lokasi penambangan, diantaranya ada batubara kualitas tinggi (high quality), kualitas menengah (medium quality), dan kualitas rendah (low quality).Banyaknya batubara dengan nilai kalori berkisar antara 7000 kkal/kg sampai 7800 kkal/kg yang belum dipasarkan menumpuk di stockpile CV. Tahiti Coal. Tingginya kualitas batubara yang ada di CV. Tahiti Coal maka belum sesuai dengan spesifikasi kontrak dengan konsumen. Salah satunya dengan PT PLN (PERSERO) Sektor Ombilin yang membutuhkan batubara kalori 6300 kkal/kg. Maka dari itu perlu adanya tindakan untuk pemanfaatan batubara kualitas tinggi agar tidak menumpuk di stockpile CV. Tahiti Coal dengan melakukan pencampuran batubara kualitas tinggi dengan batubara kualitas rendah. Metode simplek merupakan salah satu model matematis yang dapat digunakan dalam pemecahan masalah pengalokasian sumber-sumber yang terbatas secara optimal (keuntungan maksimal atau biaya minimal) dari tiga variabel atau lebih. Hasil penelitian dengan menggunakan metode simpleks menunjukan bahwa adanya kenaikan nilai kalori dari 6294 kkal/kg, ash 17,75%, sulfur 0,54%, dibandingkan dengan blending batubara yang telah dilakukan CV. Tahiti Coal yaitu 6514 kkal/kg, ash 26,8%, sulfur 0,9% dapat menguntungkan bagi perusahaan dengan permintaan yang telah ditetapkan nilai kalori 6300 kkal/kg,ash 13%, sulfur 0,8%. dan dengan adanya perhitungan dengan metode simpleks, perusahaan akan mendapatkan keuntungan dengan maksimal

Analisis Pemanfaatan Limbah (Abu Terbang dan Cangkang Telur Serta Cangkang Siput) Dalam Proses Penetralan PH Air Asam Tambang di Kolam Pengendapan Lumpur Pertambangan Batubara

ABDULLAH WAHIDNI
2018 · Thesis · Open Access

Salah satu dampak negatif dari proses penambangan batubara adalah terbentuknya air asam tambang. Timbulnya air asam tambang ini tentu tidak bisa diabaikan begitu saja karena dampaknya yang besar bagi kelestarian lingkungan serta bagi masyarakat sekitar, baik secara langsung maupun tidak langsung. Permasalahan air asam tambang ini juga dialami oleh KUD Sinamar Sakato yang merupakan salah satu perusahaan pertambangan batubara yang memiliki kadar pH air asam tambang 4-4,9. Angka ini masih di bawah standar baku mutu lingkungan menurut KEPMEN LH No.113 Tahun 2001. Oleh sebab itu untuk mencegah dan mengatasi air asam ini, dilakukanlah proses penetralan terhadap air asam tambang tersebut dengan menggunakan fly ash, cangkang telur dan cangkang siput. Proses netralisasi dilakukan pada skala laboratorium dan uji lapangan pada saluran inlet dan diukur di saluran outlet kolam pengendap lumpur. Dari hasil pengujian laboratorium didapatlah dosis fly ash 55 gr/L, cangkang telur 35 gr/L dan cangkang siput 15 gr/L mampu menetralkan air dengan pH 7,1-7,4 sesuai dengan Baku Mutu Lingkungan. Selain itu dapat diketahui secara ekonomis bahwa proses penetralan dengan menggunakan fly ash lebih efektif dan efisien dibandingkan penggunaan cangkang telur dan cangkang siput, karena fly ash mudah didapatkan dalam skala banyak.

Analisis Pengecilan Ukuran Pasir Besi Menggunakan Alat Rod Mill di Desa Sunur Kota Pariaman Provinsi Sumatera Barat sebagai Bahan Baku Besi Pellet

EKO FIZALMI
2018 · Thesis · Open Access

Pasir besi umumnya terdapat di sepanjang pantai, terbentuk karena proses penghancuran batuan asal oleh cuaca dan air permukaan. Material tersebut kemudian tertransportasi dan diendapkan di sepanjang pantai. Identikafikasi masalah dari penelitian ini ialah; minimnya penggunaanmesin grinding pada perusahaan pertambangan di Sumatera Barat yang berfungsi sebagai alat benefisiasi bijih, belum adanya kajian persen lolos dan persen tertahan pada ayakan No. 30, 50, 100, dan 200, belum diketahui lama waktu kerja alat rod mill terhadap pengecilan ukuran pasir besi. Tujuan dari penelitian ini adalah; mengetahui persen lolos dan persen tertahan pada ayakan No. 30, 50, 100, 200, dan perngaruh lama waktu kerja alat rod mill terhadap pengecilan ukuran pasir besi. Agar tercapainya tujuan dari penelitian ini maka penulis melakukan beberapa diantaranya; kegiatan pengambilan sampel yang dilakukan dipantai Sunur Kota Pariaman, kegiatan penghalusan dengan menggunakan alat rod mill, dan kegiatan pengayakan dengan menggunakan ayakan ASTM C 136-06 yang dilakukan di PT. Semen Padang, setelah melakukan kegiatan tersebut maka diperoleh hasil; kumulatif persen lolos pada sampel sebelum penggilingan diayakan No 200 adalah 0%, pada sampel setelah penggilingan 20 menit diayakan No 200 = 2,82%, pada sampel setelah penggilingan 40 menit diayakan No 200 = 2,62%, dan pada sampel setelah penggilingan 60 menit diayakan No 200 = 6,88%, untuk kumulatif persen tertahan pada sampel sebelum penggilingan diayakan No 200 = 100%, pada sampel setelah penggilingan 20 menit diayakan No 200 = 97,18%, pada sampel setelah penggilingan 40 menit diayakan No 200 = 97,38%, pada sampel setelah penggilingan 60 menit diayakan No 200 = 93,12%, dan semakin lama waktu kerja alat grinding, maka akan semakin banyak ukuran butir yang lolos ayakan #200 dan akan semakin besar pula persentase lolos ayakan #200. Dari hasil analisa diperoleh persamaan empiris yaitu: y = 0,102x + 0.014 dan nilai R² = 0,863 (mendekati 1) maka kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang kuat.

Analisis Pemantauan Pergeseran Bidang Diskontinuitas Menggunakan Crack Meter Sensor 2D VF_STTIND PT. Allied Indo Coal Jaya Kota Sawahlunto

VANESSA FAHIRA
2018 · Thesis · Open Access

Gerakan tanah adalah tidak kuatnya gaya lekat antar lapisan tanah untuk menambah perubahan massa dalam struktur tanah tersebut, gerakan tanah sangat berpengaruh di dalam dunia pertambangan khususnya gerakan tanah terhadap lereng yang memiliki bidang diskontinuitas yaitu rekahan (crack), apabila tidak adanya kajian khusus untuk lereng maka sewaktu-waktu bisa terjadi longsor dan akan mengakibatkan kerugian terhadap perusahaan itu sendiri. Untuk menanggulangi hal tersebut maka dirancang dan dibangun alat yang mampu memantau displacement lereng yaitu alat crack meter sensor 2D VF_STTIND berbasis komputer, alat ini mampu mengetahui displacement horizontal dan displacement vertikal. Penggunaan alat ini dengan cara monitoring langsung lereng dengan alat crack meter sensor 2D VF_STTIND sehingga didaptakan displacement horizontal dan displacement vertikal. Pada penelitian ini, alat crack meter sensor 2D VF_STTIND telah diuji coba di PT. Allied Indo Coal Jaya dimana hasil yang didapatkan dari monitoring selama 10 hari dengan 2 stasiun yaitu pada stasiun 1 didapatkan displacement horizontal sebesar 27 mm dan displacement vertikal sebesar 9 mm. Sedangkan pada stasiun 2 didapatkan displacement horizontal sebesar 38 mmdan displacement vertikal sebesar 17 mm. Hal ini terjadi karena dipengaruhi oleh adanya aktivitas penambangan seperti; pemuatan, pengangkutan, pengeboran, peledakan. Selanjutnya, dianalisis dengan regresi nonlinear yaitu polynomial sehingga menghasilkan persamaan y =±x2±x±c dan nilai R2 dengan y adalah displacement horizontal dan x adalah banyak nya melakukan pengukuran.

Rancangan Teknis Alat Sensor Suhu STTINDMINE13 dalam Pencegahan Secara Dini Terjadinya Swabakar pada Stockpile Batubara

DIGO ARIFKI
2018 · Thesis · Open Access

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya swabakar dan cara pencegahan terjadinya swabakar yang terjadi pada areal stockpile batubara. Salah satu cara pencegahannya adalah dengan melakukan pengukuran suhu pada tumpukan batubara menggunakan alat sensor suhu, alat sensor suhu yang digunakan ialah sensor suhu STTINDMINE13 yang dirancang untuk mengukur suhu pada tumpukan batubara. Sampel penelitian ini ialah data hasil pengukuran suhu yang dilakukan pada tumpukan batubara, kemudian hasil pengukuran dimasukkan kedalam sebuah grafik untuk mengamati laju pergerakan suhu dan selanjutnya dilakukan analisa pergerakan suhu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pergerakan suhu yang diukur pada areal stockpile PT. Dasrat Sarana Arang Sejati dan PT. Allied Indo Coal Jaya menunjukkan suhu yang berbeda, dimana suhu tersebut berada pada kisaran 30ºC - 36°C. Kondisi suhu ini dipengaruhi oleh lamanya penumpukan, jenis batubara, manajemen stockpile dan cuaca.

Evaluasi Manajemen Stockpile Batubara untuk Mencegah Terjadinya Swabakar (Studi Kasus : PT. Miyor Pratama Coal)

DELLA HIVENTA WIDODO
2018 · Thesis · Open Access

Stockpile batubara merupakan tempat penyimpanan batubara yang pertama masuk setelah mengalami proses pengangkutan yang panjang baik dari tempat distributor ataupun dari tempat penggalian material pada industri pertambangan. Sehingga tidak dapat di pastikan bahwa kualitas batubara tersebut tetap terjaga seperti kualitas aslinya sebelum pengangkutan menuju tempat penyimpanan. Salah satu cara untuk menjaga kualitas batubara setelah ditambang adalah sistem penimbunan. Kondisi area stockpile pada PT. Miyor Pratama Coal sendiri tidak dilengkapi dengan sistem pendukung seperti sistem penirisan yang berupa paritan, hal ini menyebabkan terdapat genangan air pada lantai stockpile pada saat hujan. Sistem penimbunan batubara pada stockpile PT. Miyor Pratama Coal masih belum diterapkan dengan baik, seperti kurangnya penanganan batubara yang masuk dan keluar pada stockpile, selain itu juga terdapat tumpukan yang terlalu lama ditumpuk pada stockpile akibat tidak diterapkannya sistem manajemen FIFO (first in first out) dengan baik dan tumpukan batubara tersebut selalu ditutup menggunakan terpal yang terbuat dari plastik sehingga akan menyebabkan adanya potensi swabakar. Area Stockpile PT. Miyor Pratama Coal memiliki potensi swabakar pada tumpukan batubara yang cukup besar disebabkan oleh dimensi timbunan yang memiliki rata-rata tinggi tumpukan diatas 7 meter dengan sudut lebih dari sudut angle of repose ( .(ْ 40 -ْ 30 Perencanaan desain dimensi tumpukan batubara dibuat dengan tinggi 5 meter sesuai dengan tinggi rekomendasi, sudut tumpukan ْ 30 sesuai sudut terendah rekomendasi, desain dimensi tumpukan ini dibuat agar dapat mengurangi potensi swabakar. Desain sistem drainase di area stockpile menggunakan konsep saluran terbuka alamiah di sekitar area timbunan. Rencana desain drainase berbentuk trapesium dengan lebar permukaan 1m dan tinggi 1 m. Selain itu lantai stockpile didesain dengan penambahan bedding coal dengan tebal sekitar 50 cm agar pada saat pengangkutan batubara tidak tercampur dengan tanah dibawahnya.

Evaluasi Sistem Pengelolaan Sampah di Kecamatan Lubuk Kilangan

FITRATUL HUSNA
2018 · Thesis · Open Access

Kecamatan Lubuk Kilangan yang terletak dipinggir Kota Padang dengan luas wilayah 85,99 km2 dengan jumlah penduduk sebesar 54.525 jiwa pada tahun 2016. Dengan kondisi wilayah yang cukup jauh, tentu dalm proses pengelolaan sampah akan menjadi terkendala. Hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya sampah yang menumpuk di sumber maupun di TPS yang ada di Kecamatan Lubuk Kilangan. Agar permasalahn ini tidak berlangsung lama, maka dari itu perlu dilakukan evaluasi dari sistem pengelolaan sampah yang ada di kecamatan Lubuk Kilangan. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengatahui bagaimana sistem pengelolaan sampah di Kecamatan Lubuk Kilangan dimulai dari pewadahan, pemilahan, pengumpulan, pemindahan dan pengangkutan serta bentuk serta masyarakat dalam meminimalisir timbulan sampah di wilayah ini. metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodologi kualitatif dan kuantitatif deskriptif dengan tujuan dapat mendeskripsikan fenomena yang terjadi. Hasil dari penelitian ini adalah dengan asumsi data timbulan sampah domestik sebesar 2,64 l/o/h berdasarkan wilayah pinggiran serta data timbulan sampah komersil sebesar 3,11 l/o/h dan sampah institusi sebesar 1,37 lo/h. Dari data tersebut didapatkan debit timbulan sampah domestik Kecamatan Lubuk Kilangan sebesar 143,96 m3/hr, sampah komersil 0,19 m3/hr dan sampah institusi 14,35 m3/hr dengan total debit timbulan sampah sebesar 158,50 m3/hr yang baru mencapai pelayan 60%. Agar semua sampah yang dihasilkan di Kecamatan Lubuk Kilangan dapat terkelola dengan baik maka perlu penambahan sarana prasarana seperti becak motor yang sebelumnya hanya tersedia 12 unit becak motor menjadi 79 unit dengan volume 1 m3, serta perlu dilakukan penambahan kontainer sampah yang sebelumnya hanya tersedia 6 kontainer menjadi 26 kontainer bermuatan 6 m3 serta penataan ulang titik penempatan TPS dan pembentukan TPST dengan harapan pelayanan akan lebih menjadi intensif diseluruhwilayah yaitu meningkat menjadi 80%. Namun penambahan sarana prasarana yang cukup banyak tentu akan membutuhkan biaya yang banyak juga, maka dari itu perlunya peran serta masyarakat untuk dapat meminimalisir sampah yang dihasilkan seperti melakukan pemilahan sampah terlebih dahulu di sumber, melakukan daur ulang dari sampah organik dan memanfaatkan kembali barang-barang bekas yang masih bisa digunakan untuk pembuatan pupuk kompos, pakan ternak, pupuk cair serta masih banyak penanganan yang dapat dilakukan sehingga dapat menutupi keterbatasan ketersediaan sarana prasarana di Kecamatan lubuk Kilangan. Dari komposisi sampah kota padang wilayah pinggiran kota dimana sampah organik sebesar 97,77% dan anorganik 2,23% sehingga didapatkan Komposisi sampah makanan sebesar 69,96%, sampah plastik sebesar 11,84%, kertas sebesar 7,39%, sampah halaman 6,67%, sampah tekstil sebesar 0,62%, sampah kulit sebesar 0,15%, sampah karet sebesar 0,83%.