ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Limbah cair industri tekstil mengandung zat warna yang dapat mencemari lingkungan. Salah satu zat warna yang banyak digunakan di industri tekstil adalah methylene blue. Metode yang efektif digunakan untuk menurunkan zat warna terlarut adalah adsorpsi. Padatan pengikat fluida pada proses adsorpsi disebut adsorben. Sebagai bahan yang bersifat penjerap, cangkang telur dan ampas tebu merupakan kombinasi bahan yang potensial digunakan sebagai adsorben. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan adsorpsi kombinasi limbah cangkang telur dan ampas tebu untuk zat warna methylene blue dalam limbah tekstil. Adsorben cangkang telur dan ampas tebu dibuat dengan cara pemanasan masing-masing pada suhu 5000C dan 6000C. Penelitian ini dilakukan dengan memvariasikan rasio adsorben, pH, dan waktu kontak pada proses adsorpsi methylene blue dalam limbah tekstil menggunakan analisis spektrofotometer UV- Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio optimum cangkang telur dan ampas tebu adalah 1:4, pH 9.46, dengan waktu kontak 70 menit. Persentase penyisihan methylene blue dalam limbah tekstil adalah sebesar 98,85%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Kabupaten Padang Pariaman merupakan salah satu daerah di propinsi Sumatera Barat, dimana sebagian masyarakatnya bergantung pada pertanian dengan menggunakan pupuk anorganik untuk meningkatkan produksi tanaman. Pada penggunaan jangka panjang pupuk anorganik dapat mengikis unsur hara dan berbagai mineral penting dalam tanah. Oleh karena itu, diperlukan sumber alternatif lain pengganti pupuk anorganik yaitu pupuk organik. Pupuk organik berasal dari limbah organik, diantaranya sabut buah pinang (SBP) dan ampas tahu (AT). Tujuan penelitian mengetahui kualitas pupuk organik cair yang dihasilkan dari campuran limbah SBP dan AT yang dibandingkan dengan KEPMEN Pertanian No. 261 Tahun 2019 serta mengetahui komposisi terbaik terhadap kandungan pH, C, N, P, dan K. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan membandingkan dengan baku mutu KEPMEN Pertanian No. 261 Tahun 2019. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa limbah SBP dan AT efektif menghasilkan pupuk organik cair (POC) yang terbaik pada komposisi PA1 (10 kg SBP + 2 kg AT) dengan pH 4.87, C Organik 14.40 %, Kalium 2.36%, memenuhi standar baku mutu POC. Namun, kandungan Natrium 0.70%, dan Fosfor 1,81% belum memenuhi baku mutu KEPMEN Pertanian No. 261 Tahun 2019. POC yang dihasilkan belum baik karena tidak ada satu komposisi komposisi yang memenuhi standar minimum baku mutu parameter uji.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2019•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sumatera Barat merupakan daerah menghasilkan kopi, sehingga kopi merupakan komoditi penyegar bagi penduduk. Selain kopi, teh juga bagian yang banyak diminati untuk di konsumsi oleh masyarakat. Cara menanggulangi dari ampas - ampas tersebut adalah dengan memanfaatkan ampas untuk dijadikan sebagai pupuk cair yang akan di uji langsung ke tanaman. Tanaman yang dipilih dalam penelitian ini adalah tanaman sawi (Brassica juncea L.). Untuk pembuatan pupuk cair ke media tanaman ini adalah dengan menggunakan metode hidroponik.Media yang digunakan dengan memilih tiga perlakuan, yakni dengan komposisi tanpa pupuk cair; pupuk AB Mix, dan pupuk cair dari ampas kopi dan teh. Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik penggunaan pupuk cair dan menunjukkan bahwa perlakuan yang dilakukan oleh perlakuan III lebih memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan perkembangan sawi (Brassica juncea L. ), yakni dengan komposisi pupuk cair 10 ml dan air 1000 ml. Analisa yang dilakukan meliputi tinggi batang, jumlah daun, dan panjang daun. Dari hasil uji yang didapatkan pengaruh signifikan dan didapatkan komposi sioptimum. Dari hasil tersebut didapatkan pada hari ke 14 tinggi batang sawi 1,8 cm; jumlah daun 6 helai; dan panjang daun rata - rata 1 cm yang memberikan pengaruh positif pada pertumbuhan sawi ( Brassica juncea L. ).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Semakin meningkatnya cafe kopi dan teh di Kota Padang dari tahun ke tahun akan berbanding lurus dengan produktivitas dari ampas kopi dan teh ini. Salah satu upaya terbaik untuk pengolahan ampas-ampas tersebut adalah dengan cara menjadikan pupuk organik/kompos. Untuk proses dekomposisi bahan organik menjadi kompos serta pupuk cair, diperlukan bahan dekomposer. Bahan dekomposer yang umum digunakan adalah Effective Mikroorganisme (EM-4). Proses pengomposan dilakukan dengan metode anaerob. Komposter yang digunakan ada 8 macam (P1, P2, P3, P4, P5, P6, P7, P8) dengan volume yang sama, komposisi berbeda. Dari penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik penggunaan ampas kopi dan teh sebagai pupuk cair yang optimum dan menunjukkan bahwa campuran antara ampas kopi dan teh (P2) lebih efektif menjadi pupuk cair daripada komposter lain, yakni dengan komposisi ampas kopi 375 gram + teh 125 gram + 250 larutan EM-4. Analisa yang dilakukan meliputi Nitrogen (N), Timbal (Pb), pH, C-Organik (Bahan Organik), dan Jumlah Total Koloni (Mikroba). Dari hasil uji laboratorium didapatkan pengaruh signifikan dan didapatkan komposisi optimum. Dari hasil tersebut didapatkan nilai kandungan Nitrogen (N) 1,12%; Timbal (Pb) 0,089 ppm; pH 5,67; C-Organik (Bahan Organik) 21,80%; dan Jumlah total koloni 154x103 cfu/ml, sehingga dari hasil tersebut jika dibandingkan dengan standart SNI 19-7030-2004 hasil dari pengomposan dan pupuk cair sudah memenuhi standart.