ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Spent Bleaching Earth (SBE) adalah limbah padat yang dihasilkan dari industri refinery. SBE yang telah diregenerasi dapat digunakan sebagai adsorben logam berat pada limbah. Salah satu logam berat yang dihasilkan dalam limbah cair di industri PLTU yaitu Fe. Adsorpsi merupakan salah satu metode yang baik digunakan untuk pemurnian air dari logam berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas limbah RSBE dan persentase penyisihan logam berat sebelum dan sesudah proses adsorpsi. Penelitian ini dilakukan dengan memvariasikan perbedaan massa dan waktu kontak adsorben pada proses adsorpsi Fe menggunakan analisis Spektrofotometer UV-Vis. Hasil penelitian menunjukkan pada variasi perbedaan massa adsorben didapatkan penyerapan Fe terbesar dengan massa 1,5 gram, waktu kontak optimum yaitu 7 jam, dan persentase penyisihan Fe dalam limbah cair inlet PLTU sebesar 87,81%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Silika merupakan salah satu unsur terlarut didalam brine panas bumi khususnya di wilayah Dieng. Silika merupakan padatan berpori dan dapat mengikat senyawa atau logam berat lain sehingga sering dimanfaatkan sebagai adsorben. Salah satu logam berat ini adalah logam besi dimana logam besi merupakan salah satu pencemar bagi lingkungan, dan salah satu contoh industri yang banyak menyumbang limbah besi adalah industri pandai besi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi optimum adsorbsi silika panas bumi terhadap logam berat Fe pada limbah cair pandai besi dengan menggunakan variasi waktu, kecepatan, dan berat adsorben. Metoda yang digunakan pada penelitian ini adalah metoda adsorbsi dimana nantinya nilai adsorbansi akan diukur dengan AAS. Pada penelitian ini terdapat perbedaan nilai adsorbansi akibat dari pengaruh variabel yang digunakan. Nilai adsorbansi maksimal diperoleh pada silika panas bumi murni sebesar 72,7 % untuk berat adsorben 0.75 gr dan silika yang dimodifikasi HCL sebesar 57,8% untuk berat adsorben 0,25 gr namun hal ini belum mencapai kondisi optimum karena belum menunjukkan penurunan nilai adsorbansi pada grafik sehingga perlu diadakan penelitian lanjutan dengan tambahan waktu kontak.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Limbah cair industri tekstil mengandung zat warna yang dapat mencemari lingkungan. Salah satu zat warna yang banyak digunakan di industri tekstil adalah methylene blue. Metode yang efektif digunakan untuk menurunkan zat warna terlarut adalah adsorpsi. Padatan pengikat fluida pada proses adsorpsi disebut adsorben. Sebagai bahan yang bersifat penjerap, cangkang telur dan ampas tebu merupakan kombinasi bahan yang potensial digunakan sebagai adsorben. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan adsorpsi kombinasi limbah cangkang telur dan ampas tebu untuk zat warna methylene blue dalam limbah tekstil. Adsorben cangkang telur dan ampas tebu dibuat dengan cara pemanasan masing-masing pada suhu 5000C dan 6000C. Penelitian ini dilakukan dengan memvariasikan rasio adsorben, pH, dan waktu kontak pada proses adsorpsi methylene blue dalam limbah tekstil menggunakan analisis spektrofotometer UV- Vis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio optimum cangkang telur dan ampas tebu adalah 1:4, pH 9.46, dengan waktu kontak 70 menit. Persentase penyisihan methylene blue dalam limbah tekstil adalah sebesar 98,85%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abu terbang batubara (Fly Ash) telah banyak dimanfaatkan sebagai adsorben pada penyisihan parameter pencemar dalam limbah cair. Pada penelitian ini fly ash dimanfaatkan sebagai adsorben penyisihan logam Fe pada limbah cair dengan studi kasus limbah cair PLTU Teluk Sirih, Sumatera Barat. Penelitian dilakukan dengan proses adsorbsi yang bertujuan untuk melihat besarnya efektivitas penyisihan logam Fe yang dihasilkan. Limbah cair yang diuji adalah limbah cair pada kolam inlet WWTP PLTU Teluk Sirih dengan konsentrasi Fe awal adalah 3,47 ppm. Setelah dilakukan proses adsorbsi menggunakan adsorben fly ash yang telah diaktivasi dengan NaOH 6 M dan waktu kontak 30 menit, konsentrasi logam Fe pada limbah cair turun hingga 0,02 ppm dengan persentase efektivitas penyerapan adalah 99,42 %. Sehingga dapat disimpulkan bahwa adsorben fly ash efektif digunakan sebagai adsorben pada limbah cair.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2016•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PEMANFAATAN LIMBAH KULIT BUAH KAKAO (Theobroma cacao) SEBAGAI ADSORBEN UNTUK PENYERAPAN ION LOGAM KROMIUM (VI) PADA LIMBAH ELEKTROPLATING DI BUKITTINGGI Nama : Ulet Putri Hayati NPM : 1210024428006 Dosen Pembimbing 1 : Ir. Hendri Sawir, S.T, M.Si Dosen Pembimbing 2 : Sri Yanti Lisha, S.T ABSTRAK Penelitian ini mempelajari tentang kemampuan kulit buah kakao (Theobroma cacao) untuk mengurangi konsentrasi ion logam kromium (VI) pada limbah cair. Dalam penelitian dilakukan uji terhadap : pengaruh pH, konsentrasi awal larutan ion logam, waktu kontak, massa adsorben dan ukuran partikel dengan menggunakan metode batch. Kondisi optimum untuk ion logam kromium (VI) diperoleh pada pH 6, dengan konsentrasi awal 750 mg/L, waktu kontak 15 menit, massa adsorben 0,1 gram dan ukuran partikel 32 μm. Kondisi optimum telah diaplikasikan pada limbah elektroplating di Jirek – Bukittinggi, diperoleh kapasitas penyerapan ion logam kromium (VI) 0,0776 mg/g dengan efisiensi penyerapan 84,07 %.