ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Sampah plastik yang terbuang sembarangan ke lingkungan menyebabkan efek samping bagi air tanah dan sulit diurai oleh tanah, bahkan hingga ratusan tahun. Sedangkan fly ash memiliki potensi mencemari sungai dan laut yang menjadi pusat kehidupan masyarakat pesisir. Oleh karena itu dilakukan upaya pemanfaatan limbah tersebut, salah satunya dalam pembuatan paving block. Paving block merupakan salah satu sarana transportasi yang sudah lazim digunakan dalam perkerasan jalan. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah plastik PET dan fly ash serta mengetahui apakah paving block yang dihasilkan memenuhi standar. Penelitian ini menggunakan metode sederhana yaitu pemanasan plastik bekas PET dengan menggunakan kompor gas bakar cat dan pencampuran fly ash lalu dicetak dengan komposisi masing-masing bahan yaitu 0,5 kg (plastik) : 1,5 kg (fly ash), 1 kg (plastik) : 1 kg (fly ash), dan 1,5 kg (plastik) : 0,5 kg (fly ash). Paving block yang dihasilkan diuji kualitas sesuai dengan standar SNI 03-0691-1996. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan paving block terbaik dengan komposisi campuran 1 kg (plastik) : 1 kg (fly ash) yang mempunyai nilai kuat tekan hampir memenuhi standar yaitu sebesar 8,30 MPa dan daya serap air yaitu sebesar 15,20 %.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pengelolaan air asam tambang dapat dilakukan dengan pengolahan aktif dan pengolahan pasif. Pengelolaan air asam tambang di PT. Bara Prima Pratama dilakukan dengan system metode aktif yaitu dengan pengapuran. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh komposisi campuran fly ash dan kapur tohor terhadap parameter pH air asam tambang dan menganalisis penggunaan fly ash dan kapur tohor terhadap parameter TSS pada penetralan air asam tambang. Proses netralisasi dilakukan dalam skala laboratorium dengan menggunakan metode eksperiment dengan penambahan koagulan fly ash dan kapur tohor dosis 0,003 g/l, 0,27 g/l dangan dosis keseluruhan 0,30gr. penambahan fly ash dan kapur tohor dengan dosis 0,006 g/l, 0,24 g/l dangan dosis keseluruhan 0,30 g/l. Dari hasil penelitian ini fly ash, kapur tohor tidak berpengaruh besar terhadap perubahan sedangkan kapur Tohor dapat meningkatkan nilai pH dangan cepat. Pengaruh komposisi campuran fly ash dan kapur tohor terhadap pH setelah penetralan memiliki kolerasi nilai R2 = 0,7752 (77,52%) adalah nilai yang sangat kuat, dengan dosis 0,30 gr pada percobaan ke 1(10:90), percobaan ke 2 (20:80), percobaan ke 3(30:70). Pengaruh komposisi campuran fly ash dan kapur tohor terhadap TSS setelah penetralan memiliki kolerasi nilai R2 = = 0,7449 (74,49%) adalah nilai yang sangat kuat, dengan dosis 0,30 gr pada setiap percobaan
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PT. Mandiangin Bara Prima merupakan perusahaan bergerak dibidang pertambangan batubara yang berdiri pada tahun 2005 dan merupakan salah satu perusahaan yang terletak di Kecamatan Pauh, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi. Tujuan dari penelitian ini adalah Menganalisis kualitas air asam tambang setelah ditambahkan media kapur tohor dan fly ash serta menganalisis jumlah kebutuhan kapur tohor serta fly ash dan biaya yang yang dibutuhkan. Dari hasil penelitan didapatkan Kualitas air asam tambang setelah ditambahkan kapur tohor pH air menjdi basa dengan nilai pH pada inlet 1 sebesar 9,43 dan pada inlet 2 sebesar 9,60. Sedangkan nilai TSS pada inlet 2 sebesar 9556,67 mg/L, sedangkan kadar Fe pada inlet 1 sebesar 4,56 mg/L dan pada inlet 2 sebesar 135,14 mg/L dan kadar Mn pada inlet 1 sebesar 1,082 mg/L dan pada inlet 2 sebesar 6,11 mg/L. Dan kualitas air asam tambang setelah ditambahkan fly ash pH air menjadi netral dengan nilai pH pada inlet 1 sebesar 7,87 dan pada inlet 2 sebesar 8,60. Sedangkan nilai TSS pada inlet 2 sebesar 33.5140 mg/L, sedangkan kadar Fe pada inlet 1 sebesar 230,28 mg/L dan pada inlet 2 sebesar 308,62 mg/L dan kadar Mn pada inlet 1 sebesar 11,29 mg/L dan pada inlet 2 sebesar 785,09 mg/L. Kebutuhan bahan penetral AAT untuk kapur tohor per bulan sebesar 410,28 Kg/bulan dengan biaya yang harus dikeluarkan sebesar Rp. 2.052.400,-/bulan dan fly ash sebanyak 2.630,7936 Kg/bulan
ThesisOpen AccessMetadata saja
2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abu terbang batubara (Fly Ash) telah banyak dimanfaatkan sebagai adsorben pada penyisihan parameter pencemar dalam limbah cair. Pada penelitian ini fly ash dimanfaatkan sebagai adsorben penyisihan logam Fe pada limbah cair dengan studi kasus limbah cair PLTU Teluk Sirih, Sumatera Barat. Penelitian dilakukan dengan proses adsorbsi yang bertujuan untuk melihat besarnya efektivitas penyisihan logam Fe yang dihasilkan. Limbah cair yang diuji adalah limbah cair pada kolam inlet WWTP PLTU Teluk Sirih dengan konsentrasi Fe awal adalah 3,47 ppm. Setelah dilakukan proses adsorbsi menggunakan adsorben fly ash yang telah diaktivasi dengan NaOH 6 M dan waktu kontak 30 menit, konsentrasi logam Fe pada limbah cair turun hingga 0,02 ppm dengan persentase efektivitas penyerapan adalah 99,42 %. Sehingga dapat disimpulkan bahwa adsorben fly ash efektif digunakan sebagai adsorben pada limbah cair.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Salah satu dampak negatif dari proses penambangan batubara adalah terbentuknya air asam tambang. Timbulnya air asam tambang ini tentu tidak bisa diabaikan begitu saja karena dampaknya yang besar bagi kelestarian lingkungan serta bagi masyarakat sekitar, baik secara langsung maupun tidak langsung. Permasalahan air asam tambang ini juga dialami oleh KUD Sinamar Sakato yang merupakan salah satu perusahaan pertambangan batubara yang memiliki kadar pH air asam tambang 4-4,9. Angka ini masih di bawah standar baku mutu lingkungan menurut KEPMEN LH No.113 Tahun 2001. Oleh sebab itu untuk mencegah dan mengatasi air asam ini, dilakukanlah proses penetralan terhadap air asam tambang tersebut dengan menggunakan fly ash, cangkang telur dan cangkang siput. Proses netralisasi dilakukan pada skala laboratorium dan uji lapangan pada saluran inlet dan diukur di saluran outlet kolam pengendap lumpur. Dari hasil pengujian laboratorium didapatlah dosis fly ash 55 gr/L, cangkang telur 35 gr/L dan cangkang siput 15 gr/L mampu menetralkan air dengan pH 7,1-7,4 sesuai dengan Baku Mutu Lingkungan. Selain itu dapat diketahui secara ekonomis bahwa proses penetralan dengan menggunakan fly ash lebih efektif dan efisien dibandingkan penggunaan cangkang telur dan cangkang siput, karena fly ash mudah didapatkan dalam skala banyak.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2017•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Abstrak :Energi listrik salah satunya dihasilkan dari energi kinetik uap yang menggunakan batubara sebagai bahan bakarnya. Penggunaan batubara menghasilkan hasil samping yaitu limbah abu dalam jumlah banyak yang berpotensi mencemari lingkungan apabila tidak ditangani dengan benar. Berbagai macam penelitian telah dilakukan untuk menangani limbah abu salah satunya yaitu menjadikan limbah abu menjadi bahan koagulan. Tujuan dari penelitian ini yaitu membuat bahan koagulan dengan cara mengekstrak abu terbang dengan menggunakan asam sulfat dengan variasi konsentrasi 1%,2%,3%,4%,5%,10%, dan 15%. Pengujian kualitas koagulan fly ash ini dilakukan dengan cara dilakukan pengujian pada laboratorium dengan menguji nilai pH, turbidity, dan pengujian jar test guna melihat kualitas dari koagulan fly ash. Hasil dari pengujian laboratorium yaitu didapatkan koagulan pada konsentrasi 4% merupakan hasil terbaik yaitu didapatkan nilai pH 6,98, conductivity 221,8 µS/cm, tubidity 3,50 NTU dari hasil tersebut menyatakan bahwa koagulan fly ash bisa digunakan sebagai bahan alternatif pengganti alum karena sifat yang dimiliki relatif sama dan dari uji jar test hasil pengujian sampel yang menggunakan koagulan fly ash mampu membuat sampel kedalam range standard kualitas air PLTU Ombilin. Karena menjadi bahan alternatif pengganti alum maka dengan menggunakan koagulan fly ash ini juga dapat menguntungkan secara materi.