ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PT Timah, Tbk, merupakan salah satu perusahaan BUMN yang bergerak dalam bidang penambangan timah. Proses pemisahan pada jig dipengaruhi beberapa variabel seperti panjang dan jumlah pukulan, ketebalan dan ukuran bed, kecepatan aliran horizontal, kebutuhan underwater dan feed rate. Air merupakan media utama pemisahan pada jig, sehingga kebutuhan air tambahan (underwater) memiliki peranan yang penting terhadap kecukupan air pada jig. Dalam proses penambangannya sekaligus dilanjutkan dengan proses pencucian untuk menghasilkan target recovery pencucian sebesar > 96% dengan kadar seluruh jig 20-30% Sn, sesuai dengan ketentuan perusahaan. Faktor pendukung kesuksesan pencucian ada pada proses jigging yaitu pengaturan parameter pada jig (kecepatan aliran, tebal bed, panjang pukulan, dan jumlah pukulan). Perolehan pada kondisi jig aktual nilai recovery seluruh jig adalah 93.39% artinya ada ketidaktercapaian target 2.61% dengan kadar akhir SnO2 25.11%. Penyebab ketidaktercapaian tersebut terdapat adanya nilai parameter jig diluar Standar Operasional Prosedur (SOP) dan banyak timah yang terbuang jadi tailing (looses) serta banyak mineral ikutan masuk kedalam jig. Untuk mendapatkan recovery dan kadar SnO2 optimum dilakukan perbaikan kondisi jig sesuai SOP dan kondisi jig simulasi. Perolehan recovery kondisi jig sesuai SOP sebesar 96,12% dan kadar konsentrat akhir SnO2 27.69%, serta perolehan recovery kondisi jig simulasi sebesar 97,31% dan kadar konsentrat akhir SnO2 28.01% itu artinya hasil kedua kondisi ini sudah sesuai dengan target perusahaan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Pengolahan pencucian bijih timah yang dilakukan PT Timah Tbk di Washing Plant Unit Produksi Belitung menggunakan alat Pan American Jig. perolehan recovery pencucian bijih timah yang tidak sesuai dengan Standart Opersional Prosedur (SOP) PT Timah Tbk, mengakibatkan perolehan recovery timah hasil pencucian jig menjadi menurun dimana bijih timah banyak terbuang ke tailing. Adapun alat pencucian bijih timah pada penelitian ini menggunakan jig dengan tipe alat Pan American Jig, diperoleh persen recovery hasil aktual kinerja jig yaitu 92,45% dengan dimana pada hasil obeservasi terhadap variabel jig pada panjang pukulan kondisi aktual diperoleh angka panjang pada Pka 1C 24 mm dan D 18 mm, Pka 2B 27 mm, Pki 1B 29 mm dan D 16 mm, Pki 2B 30 mm dan C 26 mm, CuKa C 7 mm, CuKi A 11 mm B 9 mm dan D 5 mm serta frekuensi pukulan kondisi aktual diperoleh pada Pka 1 112 Rpm dan Pki 1 115 Rpm tidak sesuai dengan standart opersional perusahaan sehingga dilakukan perbaikan didapat recovery sebesar 96%, selanjutnya peneliti melakukan analisis untuk meningkatkan recovery timah dilakukan 2 kali percobaan dimana panjang pukulan dinaikan 5 dan 10 mm serta penurunan frekuensi sebesar 5 dan 10 Rpm dari standart operasional prosedur PT Timah Tbk. Maka setelah dilakukan perubahan pada alat jig di dapat nilai optimal panjang dan frekuensi pukulan yang optimal untuk meningkatkan recovery yaitu pada percobaan 1 dengan kenaikan panjang pukulan 5 mm dan penurunan 5 Rpm diperoleh recovery sebesar 97,32%, dan pada percobaan 2 dengan kenaikan 10 mm panjang pukulan dan 10 Rpm frekuenis pukulan di peroleh recovery sebesar 96,24%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PT Timah Tbk yang bergerak dalam bidang penambangan timah. Salah satu penambangan endapan bijih timah primer dilakukan oleh pit TB pemali yang berada berada dalam IUP PT. Timah Tbk. Keterdapatan timah di lapangan yang semakin sedikit, menyebabkan sisa hasil pengolahan (SHP) memiliki peluang untuk diolah kembali. Keterdapatan SHP yang selalu bertambah dari setiap pencucian timah mengakibatkan melimpahnya SHP. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perhitungan Break Event Point (BEP) SHP timah, kelayakan SHP timah untuk dilakukan pengolahan kembali dan upaya yang dilakukan agar SHP layak diolah kembali. Sampel SHP dipengolahan TB Pemali mengandung Kadar rata-rata cassiterite (Sn) sebesar 10,77%Sn yang terdiri dari 20 sampel, Dengan kadar sebesar itu seharusnya SHP masih layak untuk di olah kembali. BEP pengolahan SHP TB pemali didapatkan sebesar 305,28 KgSn/shift atau 38,16 KgSn/jam. Pada pengolahan kondisi aktual hasil SHP masih belum mencapai BEP, hal ini disebabkan oleh ketebalan bed yang tidak sesuai SOP. Dimana ketebalan bed memiliki nilai di luar SOP yaitu 65 dan 85mm sedangkan SOP yang dimiliki 70-80mm. Hasil produksi SHP aktual yang diperoleh sebesar 270,48 KgSn/Shift. Upaya yang dilakukan yaitu merubah ketebalan bed sesuai dengan SOP dan Hasil produksi simulasi setelah ketebalan bed diubah sesuai SOP sebesar 359,2 kgSn/shift. Hasil produksi tersebut mengalami peningkatan 88,72 kg dari produksi sebelum nya yaitu sebesar 270,48 KgSn/Shift. Target BEP TB Pemali dapat dicapai dengan melakukan perubahan ketebalan bed yang mana didapatkan nilai peningkatan sebesar 53,92 KgSn/Shift.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2017•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
KAJIAN TEKNIS KINERJA JIG KAPAL ISAP PRODUKSI TIMAH 16 UNIT PENAMBANGAN LAUT BANGKA (Studi Kasus PT. Timah (Persero) Tbk) Nama : Rifky Andry NPM : 1210024427046 Pembimbing I : Drs. Murad MS, MT Pembimbing II : Refky Adi Nata, ST, MT RINGKASAN PT Timah (Persero) Tbk adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dibidang pertambangan atau ekplorasi timah. Proses penambangan dilakukan di lepas pantai (off shore) menggunakan Kapal Keruk (KK), Kapal Isap Produksi (KIP), Bucket Wheel Dregde (BWD) dan di darat menggunakan pompa semprot (Gravel Pump).Pencucian bijih timah merupakan bagian dari penambangan di objek produksi. Material bijih timah yang ditambang di lepas pantai (off shore) adalah material lepas dan tidak kompak, sehingga proses penambangan dan pencucian harus benar-benar dimaksimalkan untuk menghindari material yang terbuang (losses). Alat konsentrasi pada kapal isap produksi terdiri dari tiga jenis, yaitu saring putar, jig, dan pompa. Jig yang digunakan pada kapal isap produksi terdiri dari dua tingkatan yaitu jig primer dan jig clean up.Indikator keberhasilan dalam proses pencucian yang merupakan bagian dari sistem operasi produksi di kapal isap produksi yaitu jumlah bijih didapatkan dan kadar Sn yang tinggi. Pengoperasian pada proses pencucian dari alat pemisah ini berhubungan dengan nilai variabel-variabel dan kinerja jig. Adapun nilai variabel-variabel dari kinerja jig yaitu: kecepatan aliran, panjang pukulan, jumlah pukulan dan tebal bed.Dalam proses pencucian bijih timah, konsentrat tidak sepenuhnyabersih dari mineral pengotor dan sebaliknya pada tailing juga masih terdapat mineral utamanya. Hal ini bisa dikarenakan alat dan ariabel jig yang digunakan dalam proses pencucian kurang baik dan pengaruh kondisi dari umpan sehingga terjadinya losses pada saat proses pencucian. Recovery yang dihasilkan dari hasil pencucian berada di bawah standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan yaitusebesar 93%. Maka dari itu diperlukan evaluasi variabel jig dalam proses pencucian untuk mengetahui losses yang terjadi dan meningkatkan recovery bijih timah.Setelah dilakukan evaluasi terhadap kinerja jig pada KIP timah 16 recovery meningkat menjadi 97,88%, produksi meningkat menjadi 56 kampil/hari dan pendapatan menjadi Rp 2.463.525.000. Dimana persentase recovery meningkat sebesar 5,1% dari sebelumnya.