ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Perencanaan Sistem Penyaliran Tambang Batubara di PIT Gunung Agung Timur II PT. Bumi Merapi Energi Kabupaten Lahat. Metode penelitian yang dilakukan observasi langsung kelapangan yang meliputi sump, pemompaan, dimensi saluran terbuka, dan dimensi kolam pengendapan lumpur. Air limpasan yang terkumpul di sump sering meluap dan menggenangi area front penambangan dan menyebabkan terhambatnya kegiatan operasional produksi penambangan. Maka tujuan dari penelitian ini untuk mengeluarkan air yang berada di sump dengan cara pemompaan dan mengendapkannya di kolam pengendapan lumpur. Penggunaan pompa pada lokasi penelitian adalah pompa type Armor PM-10. Hasil debit pompa aktual 0,372m3/detik atau 1339,2m3/jam, dengan head total pompa 64,21m dan efisiensi 87% dengan volume sump 16156,8 m3, dan debit air yang masuk ke lokasi tambang sebesar 2012,4m3/jam dan membutuhkan pompa dengan kapasitas 372 lt/detik sebanyak 1 unit pompa. Dimensi sump yang direncanakan pada PIT Gunung Agung Timur II dengan luas 68m x 68m, luas dasar 58,8m x 58,8m, dan kedalaman 4m dengan kapasitas tampung 16162,8m3. Dimensi saluran terbuka yang direncanakan dengan lebar dasar 1,56 m, lebar permukaan 2,72m, kedalaman aliran 0,41, dan tinggi jagaan 0,66m. Kapasitas kolam pengendapan lumpur maksimum sebesar 22744 m3, dengan dimensi lebar kolam atas 90m, lebar kolam bawah 88m, panjang kolam atas 98m, panjang kolam bawah 95m, kedalaman aliran 4 meter dengan waktu pengerukan yang direncanakan 3 bulan sekali dengan daya tampung maksimal 22744m3.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Proses penambangan PT Antam Tbk Unit Bisnis Pertambangan Bauksit (UBPB) Tayan menggunakan sistem tambang terbuka dengan metode open cast. Pada tahun 2021 PT Antam Tbk menetapkan target produksi WBx (washed bauxite) sebesar 3.000.000 WMT dengan CF 60% dan 40% nya adalah lumpur (2.000.000 m3). Sehingga untuk mendukung hal tersebut PT antam Tbk membangun washing plant dan sedimen pond. Sedimen pond berfungsi sebagai sarana penampungan limbah lumpur sisa dari pencucian bauksit. Dalam kolam pengendapan tidak hanya lumpur saja melainkan bercampur dengan air, baik dari air pencucian maupun air limpasan. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis berapa besar debit air pencucian bauksit dan air limpasan yang masuk ke kolam pengendapan kemudian menganalisis berapa besar volume lumpur yang dihasilkan dalam proses pencucian bauksit dan menganalisis perbandingan biaya pengelolaan lumpur hasil pencucian bauksit dengan menggunakan metode LHD (load haul dump) dan metode mud pumping (slurry pump). Debit air limpasan yang masuk melalui daerah tangkapan hujan (DTH 1) sebesar 0,3685 m3/detik, DTH 2 0,3063 m3/detik dan DTH3 2,603 m3/detik. Kemudian debit aktual air pencucian bauksit dengan menggunakan 2 pompa sebesar 720,194 m3/jam atau 0,200054 m3/detik sedangkan debit lumpur yang dihasilkan dari pencucian bauksit sebesar 3380,35 ton/hari atau 0,0372 m3/detik. Volume total padatan dan air yang masuk kekolam pengendapan sebesar 44.172,94 m3/hari. Kemudian volume pengendapan pada kolam 1 sebesar 17.484,05 m3/hari dan pada kolam 2 sebesar 13.533,97 m3/hari. Dalam proses perawatan kolam pengendapan terdapat 2 metode pembanding yang dipakai yaitu slurry pump dan load haul dump. Dengan menggunakan metode load haul dump produktivitas yang didapatkan sebesar 58,76 m3/jam di kolam 1 dan 59,06 m3/jam pada kolam 2 sedangkan dengan menggunakan metode slurry pump produktivitas yang didapatkan sebesar 495 m3/jam di kolam 1 dan 463 m3/jam pada kolam 2. Biaya yang keluarkan untuk sewa slurry pump pada kolam 1 sebesar USD 0,24 /m3 (Rp 3.316,6 /m3) dan USD 0,25 /m3 (Rp 3.547,1 /m3) pada kolam 2 sedangkan dengan menggunakan load haul dump biaya yang dikeluarkan pada kolam 1 sebesar USD 2,62 /m3 (Rp 36.673,7 /m3) dan USD 2,61 /m3 (Rp 36.485,2 /m3) pada kolam 2. Dengan demikian metode yang paling ekonomis untuk perawatan sedimen pond yang ditinjau dari segi produktivitas dan biaya adalah dengan menggunakan metode slurry pump.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Ketersediaan energi merupakan salah satu permasalahan utama dunia saat ini. Setiap tahunnya kebutuhan akan energi semakin meningkat seiring dengan bertambahnya aktivitas manusia yang menggunakan bahan bakar minyak yang diperoleh dari fosil tumbuhan maupun hewan yang terbentuk berjuta-juta tahun yang lalu. Ketersediaan bahan bakar fosil semakin lama akan semakin langka. Kurangnya lahan landfill dan pasokan energi mendorong untuk memanfaatkan limbah pertanian menjadi RDF. Limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan sebagai RDF adalah biomassa dari TKKS. Indonesia memiliki limbah pabrik kelapa sawit yang sangat melimpah, umumnya limbah lumpur tersebut hanya ditumpuk atau dimanfaatkan sebagai kompos. Namun ada juga limbah lumpur yang belum dikelola dengan baik, sehingga mengganggu estetika lingkungan dan menyebabkan pencemaran air dan tanah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, limbah IPAL dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran RDF. Didalam penelitian ini menggunakan tiga metode yaitu menggunakan metode Uji ISO 1928:2009 E bertujuan untuk menganalisa nilai kalor, metode Uji ISO 11722:2013 E bertujuan untuk menganalisa kadar air, dan metode Uji ISO 1171:2010 E bertujuan untuk menganalisa kadar abu. Variasi optimum yang memenuhi SNI 01-6235-2000 yaitu pada variasi campuran 20:80 menggunakan perekat tepung kanji, dengan nilai kalor 5079 kal/g, kadar air 6,33% dan kadar abu 14,15%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Wilayah IUP PT. Nusa Alam Lestari secara geografis wilayah penambangan PT. Nusa Alam Lestari terletak pada koordinat 100°45’48” BT – 100°46’48” BT dan 00°36’45” LS – 00°37’12” LS.Secara administratif daerah tersebut terletak di daerah Parambahan, Desa Batu Tanjung Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat.Pada kegiatan penambangan batubara bawah tanah PT. Nusa Alam Lestari memiliki masalah dengan air yang selalu menganggu proses produksi batubara. Air tersebut berasal dari lantai, dinding dan atap terowongan. Sisitem penyaliran tambang yang digunakan oleh PT. Nusa Alam Lestari menggunakan saluran dan pemompaan. Debit air dari front penambangan dipompa menuju sump, kemudian dialirkan menuju kolam pengendapan lumpur. Besarnya curah hujan rancangan adalah 190,232. Catchment area dibagi menjadi dua,yaitu CA-1 dengan debit limpasan sebesar 0,3629 m³/detik CA-2 dengan debit limpasan 0,4394 m³/detik. Pada CA-1 dan CA-2 untuk mengeluarkan air menggunakan pemompaan, jumlah pompa pada CA-1 sebanyak satu unit pompa pada putaran mesin 1700 rpm, sedangkan jumlah pompa untuk CA-2 sebanyak satu unit pompa pada putaran mesin 2200 rpm. Total lumpur adalah 25.209,94 m³/tahun, pengerukan dilakukan 2 kali dalm satu tahun. Volume lumpur dalam satu kali pengerukan adalah 12.604,97 m³, volume lumpur sebesar 12.604,97 m³, tersebut terbagi dalam satu buah kolam pengendapan lumpur, jadi volume untuk 1 kolam pengendapan lumpur adalah 25.209,94 m³. Dengan denukian dimensi kolam pengendapan lumpur yang harus direncanakan adalah, panjang 75 m, lebar 65 m dan kedalaman 9 m.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Instalasi pengolahan lumpur tinja (IPLT) Sungai Durian dibangun pada tahun 1997, menggunakan sistem kolam , dengan kapasitas 30.000 m3. Pada saat ini effluent IPLT tidak memenuhi baku mutu PP RI No. 05 tahun 2014. Berdasarkan hasil uji laboratorium yang dilakukan untuk parameter BOD dan COD dengan metode volumetri, , TSS menggunakan alat ukur TSS analyzer, didapatkan hasil yang hampir semua dari parameter tersebut tidak memenuhi standar baku mutu air yang ditentukan. Pada studi ini dilakukan evaluasi kondisi eksisting dengan kriteria desain dan rekomendasi, baik dari segi operasi maupun proses untuk setiap unit bangunan agar effluen pengolahan memenuhi baku mutu. Tahapan pengolahan yang dibutuhkan pada unit IPLT ini adalah tangki Imhoff, kolam Anaerobik, kolam An-aerobik II, kolam Fakultatif, kolam Maturasi, dan bak Pengering Lumpur. Dengan perkiraan effluent hasil pengolahan sebesar Nitrogen= 0,03mg/L dengan efisiensi sebesar 90%, Fosfor = 0,3 mg/L dengan efisiensi sebesar 90%, BOD = 7,23mg/L dengan efisiensi sebesar 90%, TSS = 1,75mg/L dengan efisiensi sebesar 90% serta COD = 3,17mg/L dengan efisiensi sebersar 96%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Operasi penambangan yang dilakukan oleh PT. Daya Bambu Sejahtera menggunakan sistem tambang terbuka dengan metode open pit . Pada tambang terbuka kegiatannya berhubungan langsung dengan udara luar, akibatnya kegiatan penambangan sangat dipengaruhi oleh iklim. Salah satu iklim yang sangat besar pengaruhnya adalah hujan. Hujan merupakan sumber utama air pada tambang terbuka. Keberadaan air pada dasar front sangat mengganggu kegiatan penambangan, sehingga air tersebut harus dikeluarkan dari lokasi penambangan. Sistem penyaliran tambang yang digunakan oleh PT. Daya Bambu Sejahtera pada front bagian barat menggunakan saluran dan pemompaan. Debit air dari front penambangan dipompakan menuju saluran, kemudian dialirkan menuju kolam pengendapan lumpur. Besarnya curah hujan rancangan adalah 443,78 mm/hari. Catchment area dibagi menjadi tiga, yaitu CA-1 dengan debit limpasan sebesar 3,918 m³/detik, CA-2 dengan debit limpasan sebesar 1,399 m³/detik dan CA-3 dengan debit limpasan sebesar 2,322 m³/detik. Pada CA-1 dan CA-2 untuk mengeluarkan air menggunakan pemompaan, jumlah pompa pada CA-1 sebanyak 3 buah pompa pada putaran mesin 2200 rpm dan 10 buah pompa pada putaran mesin 900 rpm, sedangkan jumlah pompa untuk CA-2 sebanyak 1 buah jika putaran mesin 2200 rpm dan 4 buah pompa jika putaran mesin 900 rpm. Untuk mengeluarkan air pada CA-3 menggunakan saluran tambang dengan dimensi lebar dasar saluran 0,908 m, tinggi saluran 0,987 m, lebar muka air 1,824 m dan dengan kemiringan 6o. Total lumpur adalah 258.001,84 m3/tahun, pengerukan dilakukan 12 kali dalan satu tahun.Volume lumpur dalam 1 kali pengerukan adalah 21.500,15 m3, volume lumpur sebesar 21.500,15 m3 tersebut terbagi dalam 6 buah kolam pengendapan lumpur, jadi volume untuk 1 kolam pengendapan lumpur adalah 5.375,02 m3. Dengan demikian dimensi kolam pengendapan lumpur yang harus direncanakan adalah, panjang 30 m, lebar 25 m dan kedalaman 8 m.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2016•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
EVALUASI SISTEM PENYALIRAN TAMBANG BATUBARA DI BLOK MERUAP PADA PT. KARYA BUMI BARATAMAKABUPATEN SAROLANGUN-JAMBI Nama : ADLAN NPM : 1210024427005 Pembimbing I : Drs.Murad, MS, MT Pembimbing II :Teguh Ariefianto, ST ABSTRAK Operasi penambangan yang dilakukan oleh PT. Karya Bumi Baratama menggunakan sistem tambang terbuka dengan metode open pit. Penggunaan sistem ini mengakibatkan lokasi penambangan berhubungan langsung dengan udara luar, salah satu pengaruhnya adalah hujan yang dapat menyebabkan terjadinya genagan air pada dasar tambang. Keberadaan air ini sangat mengganggu kelancaran kegiatan penambangan, baik secara teknis, ekonomis, dan air tersebut harus dikeluarkan dari lokasi penambangan.Curah hujan rancangan di blok Meruap PT. KaryaBumiBaratamasebesar 130,91 mm/hari, debit limpasan 0,205 m³/detik, dengan debit air yang harusdipompakandarisumpsebesar 738 m3/jam. Sistem penyaliran tambang yang diterapkan oleh PT. Karya Bumi Baratama pada blok Muruap menggunakan pemompaan dan saluran terbuka. Saluran dibuat dengan penampang berbentuk trapesium dengan dimensi lebar dasar saluran (b) = 0,5 m, tinggi air saluran (h) = 0,5 m, tinggi saluran (H) = 0,625 m, luas penampang (A) = 0.375 m2 panjang saluran (L) = 546 m.Selanjutnya air akan dialirkan ke kolam pengendapan, kolamtersebutsebagai mediapenampungdanpengendapan material yang terbawaoleh air. Dimensi kolam pengendapan memiliki panjang 15 m, lebar 8 m dan kedalaman 4 m sebanyak 6 kolam dan volume air yang dapatditampung 1 kolam pengendapan adalah sebesar 404,05 m³.