ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
CV. Air Mata Emas (CV.AME) merupakan salah satu perusahaan swasta lokal yang bergerak di bidang pertambangan batubara, dengan menggunakan metode penambangan bawah tanah pada lokasi tersebut adanya amburkan yang terjadi pada terowongan tambang lubang manual AME-02. Aspek geomekanika merupakan salah satu aspek penting yang harus diperhatikan untuk menjaga kestabilan lubang bukaan dengan menganalisis displacement lubang bukaaan untuk dapat mengetahui kondisi aman pada lubang bukaan tersebut. Berdasarkan hasil pemantauan dilapangan didapatkan hasil dari pengukuran displacement yang terjadi pada lubang bukaan manual (02) sebesar 1,52 mm.Penelitian ini juga menggunakan rurmus Rock Mass Ratting (RMR) yang mana didapatkan hasil dari RQD dengan kualitas batuan pada batubara sangat baik (Excelent) dengan bobot 20, pada batu lanau memiliki kualitas batuan sangat jelek (Very Poor). Untuk jarak antara kekar, baik pada batubara dan batu lanau dengan deskripsi Sangat Lebar (Very Wide) dengan bobot 2.Sedangkan untuk kondisi diskontinuitas pada batubara rata-rata panjang kekar 139 cm, bukaan 1,513 mm dengan keadaan isian kosong, memiliki karakteristik sedikit kasar dan sedikit lapuk dengan kondisi air tanah dengan kategori lembab. Untuk batu lanau kondisi diskontinuitas dengan panjang kekar rata-rata 328,4 cm, bukaan 6,905 mm dengan isian halus karakterisitik batu lanau kasar dan lapuk, kondisi air tanah dengan kategori kering. Pada hasil pemodelann menggunakan phase didapatkan hasil nilai strengthfactor sebesar 0,252 Mpa, dan untuk hasil tegangan rata-rata sebesar 0,252 Mpa. Berdasarkan hasil perhitungan di atas dapat disimpulkan keadaan lubang manual (02) dalam kategori aman.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2019•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
CV. Tahiti Coal merupakan perusahaan swasta tambang batubara bawah tanah yang berada di Kota Sawahlunto. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kestabilan terowongan dan displacement. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan observasi lapangan dan pengujian di laboratorium. Metode penyelesaian masalah dalam penelitian ini berdasarkan klasifikasi massa batuan dari Bieniawski (1989) yaitu Rock Mass Rating System (RMR) yang terdiri dari kuat tekan batuan utuh (UCS), rock quality designation (RQD), kondisi kekar, kondisi air tanah serta orientasi kekar dan metode Finite Element (elemen hingga) yang terdiri dari displacement horizontal, displacement vertikal, total displacement, dan strength factor. Hasil RMR berdasarkan parameter di atas menjelaskan, batupasir memiliki RMR 68, batulanau memiliki RMR 71, batubara THC-01 memiliki RMR 68 dan batubara THC-02 memiliki RMR 75. Analisis Faktor Keamanan THC-01 didapatkan nilai dari horizontal displacement maksimum sebesar 8,2 mm sedangkan untuk horizontal displacement minimum sebesar -8,1 mm, vertical displacement maksimum sebesar 7,3 mm sedangkan vertical displacement minimum sebesar -7,7 mm, FK sebesar 6.03 (setelah penyanggan) dan Analisis faktor keamanan THC-02 didapatkan nilai dari horizontal displacement maksimum sebesar 7,8 mm sedangkan untuk horizontal displacement minimum sebesar -7,3 mm, vertical displacement maksimum sebesar 6,7 mm sedangkan vertical displacement minimum sebesar -8,2 mm FK sebesar 6.96 (setelah penyanggaan). Hasil FK masuk dalam kategori stabil.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2019•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PT. AICJ terletak di kecamatan talawi, kota sawahlunto, provinsi sumatera barat. Masalah yang sering terjadi pada tambang bawah tanah adalah terjadi amrukan pada lubang tambang salah satu faktor terdapatnya rekahan dan adanya jatuhan batuan dari atap terowongan. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi lapangan dan uji laboratorium dengan tujuan menganalisis stand-up time dan faktor keamanan lubang tambang. Metode yang dipakai dalam pengolahan data yaitu klasifikasi massa batuan dari Bieniawski 1989 yaitu Rock Mass Rating (RMR) yang terdiri dari 5 parameter utama dan 1 parameter pengontrol. Finite elemen diketahui dengan menggunakan perangkat lunak phase 2 yang terdiri dari Displacement horizontal, displacement vertical, total displacement, dan strength factor. Dari Hasil analisis stand-up time didapatkan jarak antara penyangga, dan lamanya batuan bertahan. Batubara dengan RMR 61, setelah di plot pada grafik stand-up time didapatkan waktu bertahan terowongan selama 1500 jam atau 3 bulan dengan span 8 m. Batupasir memiliki RMR 64, setelah di plot pada grafik stand-up time didapatkan waktu bertahan terowongan selama 2400 jam atau 7 bulan dengan span 8,4 m. Setelah di olah menggunakan sotware phase 2 maka dapat disimpulkan bahwa standup time selama 2400 jam atau 7 bulan dengan span 8,4 m, serta nilai faktor keamanan sebesar 1,04 dapat dikategorikan aman.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tambang bawah tanah memerlukan pemantauan terhadap kestabilan batuan di sekitar terowongan, karena batuan yang dibongkar akan mengalami perubahan terhadap kekuatan dan bentuk batuan itu sendiri. Kestabilan pada terowongan adalah satu hal yang harus dipantau, hal ini diperlukan agar dapat meminimalisir terjadinya ambrukan atau kecelakaan pada tambang. Pada tambang batubara bawah tanah di lubang BMK 14 CV. Bara Mitra Kencana terdapat beberapa penyangga yang retak atau patah. Dibeberapa cabang penambangan terjadi runtuhan atau ambrukan, hal ini tentunya akan sangat berbahaya bagi para pekerja. Untuk mencegah terjadinya ambrukan perlu tindakan untuk memantau pergerakan atap terowongan, dari data pergerakan tersebut dapat diambil langkah cepat kapan saatnya dilakukan penyangga dan jenis penyannga apa yang sesuai dengan pergerakan atap terowongan tersebut, sehingga ambrukan tambang dapat di antisipasi. Salah satu cara agar dapat mendeteksi pergerakan atap dan dinding terowongan itu adalah dengan membuat alat menggunakan sensor, yaitu sensor ultrasonik ping.Sensor ultrasonik ping ini dapat digunakan untuk mengukur jarak lebih dari 3 cm dan kurang dari 300 cm. Hasil pengukuran pergerakan crown subsidence dan horizontal displacementpada CV. Bara Mitra Kencana selama 5 hari yaitu, untuk pengukuran horizontal displacement pada stasiun 1 tidak terjadi pergerakan sedangkan pada stasiun 2 terjadi pergerakan sebesar 1mm. Pada pengukuran pergerakan crown subsidencestasiun 1 terjadi pergerakan sebesar 1 mm di pengukuran ke 2 pagi , 1 mm pada pengukuran ke 3 pagi, 1 mm pada pengukuran 3 sore, 1 mm pada pengukuran ke 4 sore , 1 mm pada pengukuran ke 5 pagi dan terjadi runtuhan pada pengukuran ke 5 sore. Untuk stasiun 2 pergerakan terjadi pada pengukuran ke 2 pagi sebesar 1 mm, 1 mm pada pengukuran ke 2 sore dan 1 mm pada pengukuran ke 3 pagi, namun untuk pengukuran selanjutnya tidak ada pergerakan.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daerah penelitian (CV. BMK) berada di Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis stand up time dan faktor keamanan lubang tambang. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan observasi lapangan dan pengujian di laboratorium. Metode penyelesaian masalah dalam penelitian ini berdasarkan klasifikasi massa batuan dari Bieniawski (1989) yaitu Rock Mass Rating System (RMR) yang terdiri dari kuat tekan batuan utuh (UCS), rock quality designation (RQD), kondisi kekar, kondisi air tanah serta orientasi kekar dan metode numerik yang terdiri dari displacement horizontal, displacement vertikal, total displacement, dan strength factor. Hasil analisis stand-up time berdasarkan parameter di atas dengan menggunakan grafik, didapatkan lamanya batuan dapat menahan tekanan dirinya sendiri tanpa adanya penyangga. Batubara memiliki RMR 55, setelah dilakukan plot pada grafik stand-up time, didapatkan waktu bertahan terowongan selama 700 jam atau 4 minggu lebih 1 jam dengan span 6,2 m. Batulanau memiliki RMR 67, didapatkan waktu bertahan terowongan selama 6500 jam atau 9 bulan dengan span 8,4 m. Analisis faktor keamanan didapatkan nilai dari horizontal displacement maksimum sebesar 4,4 mm sedangkan untuk displacement minimum sebesar -5,0 mm, vertical displacement maksimum sebesar 4,2 mm sedangkan displacement untuk minimum sebesar -4,2 mm dan untuk total displacement sebesar 6,4 mm. Berdasarkan pengolahan data menggunakan software Phase2 didapatkan nilai faktor keamanan sebesar 1,30 yang masuk dalam kategori aman.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Gerakan tanah adalah tidak kuatnya gaya lekat antar lapisan tanah untuk menambah perubahan massa dalam struktur tanah tersebut, gerakan tanah sangat berpengaruh di dalam dunia pertambangan khususnya gerakan tanah terhadap lereng yang memiliki bidang diskontinuitas yaitu rekahan (crack), apabila tidak adanya kajian khusus untuk lereng maka sewaktu-waktu bisa terjadi longsor dan akan mengakibatkan kerugian terhadap perusahaan itu sendiri. Untuk menanggulangi hal tersebut maka dirancang dan dibangun alat yang mampu memantau displacement lereng yaitu alat crack meter sensor 2D VF_STTIND berbasis komputer, alat ini mampu mengetahui displacement horizontal dan displacement vertikal. Penggunaan alat ini dengan cara monitoring langsung lereng dengan alat crack meter sensor 2D VF_STTIND sehingga didaptakan displacement horizontal dan displacement vertikal. Pada penelitian ini, alat crack meter sensor 2D VF_STTIND telah diuji coba di PT. Allied Indo Coal Jaya dimana hasil yang didapatkan dari monitoring selama 10 hari dengan 2 stasiun yaitu pada stasiun 1 didapatkan displacement horizontal sebesar 27 mm dan displacement vertikal sebesar 9 mm. Sedangkan pada stasiun 2 didapatkan displacement horizontal sebesar 38 mmdan displacement vertikal sebesar 17 mm. Hal ini terjadi karena dipengaruhi oleh adanya aktivitas penambangan seperti;
pemuatan, pengangkutan, pengeboran, peledakan. Selanjutnya, dianalisis dengan regresi nonlinear yaitu polynomial sehingga menghasilkan persamaan y =±x2±x±c dan nilai R2 dengan y adalah displacement horizontal dan x adalah banyak nya melakukan pengukuran.