ThesisOpen AccessMetadata saja
2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tata letak yang terencana dengan baik akan menjadi penentu kelancaran dan kesuksesan kerja dari sebuah pabrik, dan pemindahan material yang pendek akan membuat waktu yang dibutuhkan semakin kecil sehingga biaya yang dikeluarkan menjadi kecil juga. CV. Kito Multi Industri masih ditemukan adanya alur produksi bolak balik dengan jarak antar stasiun tergolong cukup jauh. Tujuan dari penelitian ini yaitu memberikan usulan tata letak yang optimal kepada perusahaan guna mengurangi biaya Ongkos Material Handling (OMH). Metode Systematic Layout Planning (SLP) menggunakan input kuantitatif seperti jarak dan frekuensi perpindahan bahan serta input kualitatif seperti derajat hubungan aktivitas dalam tahap analisisnya, sehingga analisis yang dilakukan menjadi lebih baik. Metode Systematic Layout Planning (SLP) memiliki kelebihan karna memungkinkan bisa memberikan solusi yang lebih dari satu alternatif. Berdasarkan acuan metode Systematic Layout Planning (SLP) dan perhitungan nilai Ongkos Material Handling (OMH), serta dari grafik ARC ada 2 usulan perbaikan layout, dari usulan yang ada maka usulan layout 2 disimpulkan mampu untuk mengurangi nilai OMH, dimana OMH per hari pada Layout awal sebesar Rp. 58.491,43, sedangkan dengan usulan layout 2 nilai OMH sebesar Rp. 37.851,43. ini tentu memberikan selisih yang cukup jauh jika dibandingkan dengan OMH awal, dimana selisih tersebut adalah sebesar Rp. 20.640.000.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Tata letak fasilitas produksi merupakan aspek penting pada perancangan manufaktur. Ketidaktepatan merancang jalur-jalur produksi justru akan menimbulkan ketidakrapian dan kebingungan lalulintas aliran produk maupun material, sehingga peningkatan efisiensi dan efektivitas produksi tidak akan pernah tercapai. Pada lokasi penelitian ditemukan permasalahan tata letak fasilitas produksi, yang mana fasilitas yang harusnya berdekatan pada kenyataannya terletak berjauhan. Hal ini menyebabkan meningkatnya ongkos material handling, untuk itu perlu dilakukan relayout tata letak fasilitas produksi guna memperkecil ongkos material handling. Setelah dilakukan penelitian tentang relayout tata letak fasilitas produksi untuk meminimalisasi ongkos material handling, dapat ditarik kesimpulan bahwa ongkos material handling pabrik tahu mengalami penurunan setelah dilakukannya relayout. Ongkos material handling yang awalnya sebesar Rp. 94.785.701,- mengalami penurunan sebesar Rp. 63.765.996,- menjadi sebesar Rp. 31.019.705,-.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2016•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Rancang Ulang Tata Letak Fasilitas Produksi Untuk Meminimalkan Biaya Material Handling (Studi Kasus di Pabrik Tahu Alami Lubuk Buaya) Nama : Rizki Rahmandani NPM : 1210024425030 Dosen Pembimbing 1 : Riko Ervil, MT Dosen Pembimbing 2 : Meldia Fitri, ST, MP ABSTRAK Tata letak fasilitas yang baik dan sesuai dengan keadaan perusahaan merupakan salah satu faktor utama untuk mengoptimalkan waktu dan biaya produksi. Permasalahan yang ada pada pabrik tahu alami adalah tata letak beberapa fasilitas produksi yang seharusnya berdekatan pada kenyataannya berjauhan, seperti pada penempatan bahan baku dan perendaman dengan jarak sekitar 4 meter. Hal ini dapat mengurangi efisiensi kerja dalam perusahaan dan juga menimbulkan ongkos material handling yang cukup besar yaitu Rp 105.692.230. Untuk itu perlu dilakukan relayout tata letak fasilitas produksi agar dapat meminimalkan ongkos material handling dan melakukan perhitungan jarak perpindahan antar fasilitas. Dari tujuan penelitian merancang ulang tata letak fasilitas pabrik untuk meminimalkan biaya material handling dapat ditarik kesimpulan bahwa tata letak pabrik tahu alami mengalami penurunan biaya setelah dilakukannya perbaikan. Ongkos material handling untuk layout usulan sebesar Rp. 83.325.352. Sehingga dapat menurunkan ongkos material handling sebesar Rp 22.366.878.