ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
CV. Tahiti Coal adalah salah satu perusahaan tambang yang menggunakan metode penambangan bawah tanah. Metode yang digunakan adalah room and pillar. CV. Tahiti Coal menggunakan alat manual, seperti sekop. Pada CV. Tahiti Coal tepatnya pada lubang THC-02 perlunya dilakukan analisis ventilasi tambang bawah tanah, untuk mengetahui kuantitas dan kualitas udara pada front penambangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan udara untuk pekerja, mesin, dan untuk mendilusi gas methan di lubang lubang pada lubang THC-02 CV. Tahiti Coal, menganalisis nilai temperatur udara lubang pada lubang THC-02 CV. Tahiti Coal, menganalisis kelembaban udara lubang pada lubang THC-02 CV. Tahiti Coal. Data yang dibutuhkan berupa luas terowongan, kecepatan angin, temperatur basah, temperatur kering, dan peta layout. Kebutuhan udara pekerja setiap front 0,03 m3/s. dan kebutuhan udara alat untuk setiap front penambangan 0,09 m3/s. FK Cb1 0,173 m3/s , FK Cb2 0,196 m3/s dan FK Cb3 0,21 m3/s, Cb4 adalah 0,21m3/s, dan Cb5 adalah 0,173m3/s. Nilai temperatur paling rendah adalah 21°C dan temperatur tinggi pada front adalah 27,50C pada fk cb2. Dengan kelembaban total rata – rata pada pengukuran saat pagi hari 23,90c dan pada saat siang hari 25,04°C, dapat disimpulkan suhu pada siang hari lebih tinggi dari pada pagi hari. Terdapat kelembaban paling tinggi 97 % yang melewati ambang batas yang telah ditentukan yaitu 85% dan kelembaban paling rendah adalah 65%.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PT. Bintang Sumatra Pacific merupakan perusahaan tambang batuan andesit, pada proses penambangan beberapa kegiatan produksi pekerja masih belum banyak yang memakai alat pelindung diri (APD), seperti pada kegiatan pemboran pekerja tidak memakai alat pelindung telinga, mata dan mulut. Dalam proses penambangan dapat menimbulkan tekanan lingkungan yang berdampak fisik maupun non fisik, bentuk tekanan lingkungan dapat berupa kebisingan dan kelembaban. Pada proses kegiatan produksi pekerja masih belum banyak yang memakai alat pelindung diri (APD), seperti pada kegiatan pemboran pekerja tidak memakai alat pelindung telinga, mata dan mulut. Di lokasi yang menjadi objek penelitian beberapa masih melebihi nilai ambang batas, seperti tingkat kebisingan pada area pemboran 99.1 dBA dan lintasan kerja 96.3 dBA. Tujuan penelitian ialah mengidentifikasi bahaya tingkat kebisingan, kelembaban, mengetahui persepsi para pekerja dan memetakan hasil tingkat kebisingan dan kelembaban menggunakan software surfer 11. Dari hasil penelitian tingkat kebisingan melebihi nilai ambang batas pada area bengkel 86.04 dB, pemboran 97.18 dB, lintasan kerja 96.35 dB, dan area peledakan 60,9 dB dan tingkat kelembaban masih berada dibawah 85% nilai ambang batas. Pemetaan menunjukkan tiga warna yaitu warna biru 60 – 72 dB, area warna hijau 72 - 82 dB, area warna orange 84 – 92 dan area warna merah 94 – 100 dB. Berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP-51/MENAKER/1999 sebagai acuan ambang batas kerja maka dapat disimpulkan bahwa tingkat kebisingan melebihi nilai ambang batas, tingkat kelembaban dibawah ambang batas dan persepsi pekerja yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2019•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PT. Nusa Alam Lestari adalah perusahaan tambang yang bergerak dalam produksi batubara bawah tanah yang terletak di Desa Salak, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat. Tambang bawah tanah lubang C2B PT. Nusa Alam Lesatri menggunakan satu blower utama dengan sistem hembus dengan tipe DF56-4. Lubang C2B merupakan lubang bukaan baru dengan panjang 80 meter terdapat satu front kerja aktif dan dua cabang bak kotrol serta cabang penambangan yang belum aktif. Pada saluran udara lubang C2B terdapat banyak kebocoran. Perlu dilakukan analisis tekanan udara dan hambatan udara pada lubang C2B PT. Nusa Alam Lestari. Dalam penelitian ini membahas tentang kualitas dan kuantitas udaran pada lubang C2B PT. Nusa Alam Lestari. Berdasarkan hasil pengamatan lubang C2B, jumlah udara di front kerja sangat baik dan memenuhi kebutuhan untuk pernapasan bagi pekerja, mendilusi gas methan dan peralatan mesin untuk panjang lubang 80 meter dan masih memungkinkan untuk melanjutkan kemajuan penambangan. Akan tetapi, Lubang C2B mempunyai kelembaban dan temperatur yang tinggi 86% - 99,7% untuk kelembaban dan 28,10C – 29,10C untuk temperatur, itu sudah melebihi nilai ambang batas berdasarkan buku Hartman 1991 yaitu 85% untuk kelembaban dan 18 -280 C untuk temperatur, tetapi tidak di front kerja yang mempunyai temepratur yang baik. Pengkuran kuantitas dan kualitas udara dilakukan pada setiap percabangan dan front kerja dengan mengukur kecepatan udara menggunakan alat anemometer, gas detector untuk kandungan gas dalam lubang tambang dan sling psykometer untuk mengukur kelembaban dan temperatur.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
CV. Bara Mitra Kencana (CV. BMK) merupakan perusahaan yang bergerak pada bidang pertambangan bawah tanah yang terletak di Desa Batu Tanjung, Kecamatan Talawi, Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat. Temperatur udara efektif dan kelembaban relatif pada lubang tambang BMK-35 melebihi nilai ambang batas (NAB) yang di atur oleh KEPMEN 555K yaitu temperatur udara efektif 26oC dengan kelembaban relatif sebesar 95,4%, sedangkan temperatur udara efektif yang di perbolehkan berkisar antara 18-24oC dengan kelembaban relatif maksimum sebesar 85%.
Solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan pengaturan sistem ventilasi yang baik yaitu memasang ventilasi hisap pada jalan keluar dengan pertimbangan desain lubang tambang yang ada pada CV. BMK. Hasil analisa yang dilakukan dengan pemasangan ventilasi hisap pada lubang tambang BMK-35, didapatkan nilai temperatur udara efektif pada lokasi lubang bukaan (kanopi) 19,9-21oC dengan kelembaban relatif sebesar 78-83%. Pada lokasi percabangan, temperatur udara efektif 22,5-23,8oC dengan kelembaban relatif sebesar 83-85%. Pada lokasi front kerja, temperatur udara efektif 23-23,5oC dengan kelembaban relatif sebesar 83,5-85,1%.
Setelah dilakukanya pemasangan ventilasi hisap, temperatur udara efektif dan kelembaban relatif sudah sesuai dengan NAB yang di perbolehkan oleh KEPMEN 555K. Pengontrolan terhadap temperatur udara efektif dan kelembaban relatif perlu dilakukan agar terciptanya kondisi kerja yang aman dan nyaman.