Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

15 hasil
Subjek: Sampah
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Perencanaan TPS 3R (Reduce-Reuse-Recycle) di Pasar Induk Hasil Pertanian Kota Padang Panjang

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pasar Induk Hasil Pertanian Kota Panjang merupakan pasar yang membantu masyarakat khususnya petani dalam menjual hasil pertanian. Namun keberadaan pasar memberikan efek negatif bertambahnya timbulan sampah yang dibuang langsung ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut menggunakan Tempat Penampungan Sementara (TPS) 3R (reduce, reuse dan recycle). Penelitian bertujuan untuk menghitung timbulan dan komposisi sampah sehingga didapatkan kebutuhan sarana pewadahan dan pengumpulan sampah serta desain Layout TPS 3R yang sesuai. Penelitian diawali dengan observasi terkait kondisi eksisting pengelolaan sampah dilanjutkan dengan pengambilan sampel untuk pengukuran timbulan dan komposisi berdasarkan SNI 19-3964-1994. Hasil penelitian menunjukan timbulan sampah total tertinggi pada Pasar Induk Hasil Pertanian sebesar 4138,37 liter/hari atau 1517,8 kg/hari, dengan komposisi sampah tertinggi yaitu sampah organik berdasarkan berat sebesar 90,89% atau berdasarkan volume sebesar 61,49%. Pengolahan sampah utama yang direncanakan adalah pengomposan menggunakan aerator bambu dan mengakomodasi pengelolaan sampah plastik menggunakan mesin pencacah serta pengumpulan sampah berupa kardus dan kaleng sehingga dibutuhkan fasilitas TPS 3R dengan luas sebesar 152,83 m2. Residu sampah yang tidak terkelola diangkut ke tempat pemrosesan akhir (TPA) Sungai Andok dengan potensi pengurangan sampah mencapai 3579,37 liter/hari atau sebesar 86,49%.

108 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Perancangan TPS 3R di Kelurahan Kapalo Koto Kecamatan Pauh Kota Padang

2023•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Pertambahan jumlah penduduk di Kecamatan Pauh mengakibatkan meningkatmya konsumsi masyarakat yang berujung pada peningkatan jumlah timbulan sampah di TPS. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi timbulan sampah serta perencanaan TPS 3R di Kelurahan Kapalo Koto. Pengambilan sampling timbulan domestik berdasarkan SNI 19-3964-1994 tentang Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan dan Komposisi Sampah. Berdasarkan hasil observasi lapangan selama 8 hari berturut-turut, rata-rata volume timbulan sampah yang dihasilkan masyarakat Kelurahan Kapalo Koto adalah 2,13 l/o/h. Dengan komposisi sampah organik 40,3 % , sampah anorganik 17,8 % , sampah kertas 20,8 % , sampah tekstil 7,2 %, sampah logam 3,57 % ,sampah karet 3,45 % dan sampah lainnya 6,97 %. Pengelolaan sampah TPS 3R kapalo Koto yang diterapkan adalah sampah organik yang dijadikan pupuk kompos dengan menggunakan mesin pencacah dan sampah anorganik yang dijadikan biji plastik dengan menggunakan mesin penggiling plastik. Luas TPS 3R yang direncanakan untuk Kelurahan Kapalo Koto adalah 371,5 m2.

6 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Optimalisasi Sistem Pengangkutan Sampah dengan Dump Truck di Kecamatan Lubuk Basung

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengevaluasi kondisi eksisting sistem pengangkutan sampah Kecamatan Lubuk Basung, optimasi rute pengangkutan mempertimbangkan distribusi beban, waktu dan jarak, serta merekomendasikan perbaikan sistem pengangkutan sampah di Kecamatan Lubuk Basung. Kondisi eksisting meliputi TPS, sarana, pola dan rute pengangkutan. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan kondisi eksisting dengan Permen PU nomor 3 tahun 2013. Rekomendasi perbaikan sistem pengangkutan sampah berdasarkan evaluasi dan optimasi. Hasil penelitian menunjukkan TPS eksisting berjumlah 45 unit dengan jenis TPS 1,2,3, TPS darurat. Pengangkutan dilakukan dari TPS menuju TPA dengan pola pengangkutan sistem wadah tetap/Stationary Container System (SCS) menggunakan 5 unit dump truck dengan 1 ritasi/hari dan Rute kendaraan terdiri dari 5 rute. Evaluasi sistem pengangkutan sampah meliputi evaluasi TPS dengan menambah beberapa TPS pada jalan – jalan yang tidak di lalui oleh kendaraan. Evaluasi pola pengangkutan dengan penambahan jumlah ritasi dump truck menjadi 2 ritasi/hari sesuai dengan peraturan. Evaluasi sarana pengangkutan dengan memanfaatkan 5 unit kendaraan yang memenuhi umur teknis, sedangkan kendaraan yang melewati umur teknis dilakukan peremajaan. Optimasi rute pengangkutan mempertimbangkan jarak, waktu terpendek serta umur teknis kendaraan didapatkan pengalihan dan penambahan rute untuk masing – masing dump truck. Rekomendasi perbaikan sistem pengangkutan sampah dilakukan perubahan dari sampah tercampur menjadi terpilah, penambahan TP pada nagari – nagari yang tidak dilalui oleh kendaraan dan perletakan pool kendaraan dianjurkan berada di TPA.

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Analisis Pengaruh Suhu Terhadap Peleburan Sampah Plastik Menjadi Papan Plastik

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Sampah plastik yang berada bebas di lingkungan mengakibatkan turunya kualitas tanah, air permukaan maupun air tanah dan juga air laut. Untuk memberikan salah satu jalan keluar dari masalah ini maka dilakukan proses daur ulang menjadi papan plastik yang memiliki nilai ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis suhu optimal dalam daur ulang sampah plastik HDPE dapat dijadikan papan plastik dan untuk mengetahui pengaruh suhu terhadap kualitas papan plastik yang dihasilkan sehingga memenuhi standar. Penelitian ini menggunakan metoda sederhana yaitu dengan peleburan plastik bekas HDPE dengan menggunakan hotpress dengan variabel suhu, 180oC, 200oC, 220oC, 240oC dan 260oC. Papan yang dihasilkan akan diuji kualitas sesuai dengan standar SNI 03-2105-2006. Untuk uji Kerapatan dan Keteguhan lentur untuk Keteguhan tekan sejajar permukaan mengacu pada SNI 03-3958-1995 Berdasarkan hasil penelitian didapatkan suhu optimal dalam pembuatan papan plastik pada suhu 200oC, yaitu dengan hasil uji kerapatan sebesar 0,88 gr/ cm², uji keteguhan lentur sebesar 82.10 kgf/cm² dan uji keteguhan tekan sejajar permukaan sebesar 534.29 kgf/cm², jadi suhu pemanasan 200oC adalah suhu yang paling optimal dan suhu yang paling mempengaruhi dengan baik terhadap peleburan pembuatan papan plastik dari sampah plastik bekas HDPE, selanjutnnya diharapkan papan plastik ini dapat dimanfaatkan lebih lanjut

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Optimalisasi Pengomposan Sampah Pasar Sayur Bukit Surungan dengan Metode Takakura Susun

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Belum maksimalnya pengolahan sampah sayur di pasar Bukit Surungan Kota Padang Panjang. Menyebabkan banyaknya sampah sayur yang terbengkalai, sehingga dibutuhkan pengolahan yang tepat dalam mengatasi sampah sayur. Teknologi composting menjadi solusi tepat dalam mengatasi sampah sayur di Pasar Sayur Bukit Surungan Kota Padang Panjang. Metode pengomposan yang digunakan adalah pengomposan dengan Takakura Susun dan penambahan EM4 (Effektive Microorganism) dengan variasi penambahan sampah organik per 1 hari, 3 hari, 5 hari, dan 7 hari. Hasil dari penelitian ini menujukkan bahwa dalam waktu 12 hari kompos sudah dapat digunakan, dengan perlakukan penambahan sampah organik setiap hari selama 7 hari berturut- turut. Adapun kandungan kompos yang dihasilkan menunjukan kadar rasio C/N sebesar 10.96, karbon 12.50 dengan sifat fisik kompos berwarna kehitaman, berbau tanah, dan bertekstur seperti tanah dengan kadar air 19 %, suhu 270C dan pH 6.8.

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Daur Ulang Sampah Plastik HDPE dan Multilayer Menjadi Papan Polimer Sebagai Salah Satu Solusi Permasalahan Sampah Plastik di Kota Padang

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kesadaran masyarakat di Kota Padang akan pentingnya pengelolaan sampah untuk mengendalikan pencemaran lingkungan saat ini masih sangat lemah terutama sampah plastik. Banyaknya produsen yang menggunakan kemasan produk berbahan plastik HDPE dan plastik multilayer serta banyaknya masyarakat kota Padang yang masih mengkonsumsi produk tersebut. Sementara proses daur ulang yang dilakukan bank sampah di kota Padang hanya memperlambat masuknya sampah ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Penelitian ini bertujuan menentukan komposisi sampah plastik HDPE dengan Multilayer dalam pembuatan papan polimer dan menghitung persentase pengurangan sampah plastik. Sampah plastik HDPE dan Multilayer diolah menjadi papan polimer dengan menggunakan alat hotpress pada suhu 200⁰C. Komposisi yang digunakan dalam penelitian ini adalah 90 % HDPE :10 % Multilayer, 92,5 % HDPE:7,5 % Multilayer, 95% HDPE : 5% Multilayer. Dari penelitian ini maka didapatkan hasil yang terbaik pada komposisi 95% HDPE: 5% Multilayer, dimana dapatnya nilai kerapatan dan keteguhan tekan sejajar paling tinggi. Papan polimer yang dihasilkan bisa untuk mengurangi sampah plastik di lingkungan. Disamping untuk mengurangi beban pencemaran, dengan adanya industri kreatif yang mengolah sampah plastik HDPE dan Multilayer menjadi papan polimer diharapkan juga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat.

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Identifikasi Sampah Laut (Marine Debris) di Kawasan Pesisir Pantai Pasir Jambak, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Sampah laut (marine debris) adalah sampah yang berasal dari daratan, badan air, dan pesisir yang mengalir ke laut atau sampah yang berasal dari kegiatan di laut. Berbagai masalah yang muncul akibat adanya sampah laut (marine debris) antara lain adalah berkurangnya keindahan wilayah pesisir dan wisata pantai, dari segi estetika dengan adanya timbulan sampah yang bau dan berserakan dapat menimbulkan berbagai macam penyakit, mempengaruhi jaring makanan, berkurangnya produktifitas ikan, serta dapat mempengaruhi metabolisme tanaman laut seperti lamun. Semakin meningkatnya volume sampah yang masuk ke perairan laut tiap tahun maka perlu dilakukan identifikasi sampah laut untuk mengetahui karakteristik sampah, baik sampah yang berukuran (meso debris, 0.5-2.5cm) dan (makro debris,>2.5cm). Penelitian dilakukan di kawasan Pantai Pasir Jambak, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. Pantai Pasir Jambak memiliki panjang berkisar 3 kilometer dengan substrat pantainya berpasir. Penelitian ini mengacu pada Surat Edaran Nomor : SE.9/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2020. Sampah laut yang paling banyak ditemukan adalah sampah plastik (451 buah), kayu (129 buah) dan busa plastik (78 buah). Persentase komposisi sampah yang paling banyak adalah sampah kayu sebanyak 55.71% dan plastik 16.61%. Sedangkan kepadatan sampah perjenis per luasan kotak transek yang paling banyak ditemukan adalah sampah plastik 0.451/m2 dan sampah kayu 0.129/m2.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Analisis Pengaruh Ukuran Partikel Sampah Organik Terhadap Waktu Pengomposan dengan Metode Komposter Semi Anaerob di Nagari Kunangan Parik Rantang Kec. Kamang Baru Kab. Sijunjung

2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Sampah organik adalah sampah basah yang mudah terurai, sejenis sampah rumah tangga yang tidak diamanfaatkan dengan baik, sehingga dapat merusak lingkungan sekitar. Salah satu upaya untuk mengolah sampah organik yaitu dengan cara menjadikan pupuk kompos. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui ukuran sampah yang efektif untuk pembuatan pupuk kompos, lama waktu yang dibutuhkan dalam pembuatan kompos dengan menggunakan komposter semi anaerob dan komposisi kompos sesuai dengan SNI 19-7030-2004. Komposter yang dirancang berkapasitas 25 L, dengan proses pengomposan sampah menjadi pupuk menggunakan EM4. Proses pengomposan yang dilakukan dari sumber sampah organik dengan variasi ukuran partikel yaitu, bubur, 2 cm, 4 cm, 6 cm dan 8 cm. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah tingkat kematangan sampah organik dalam proses pengomposan menggunakan komposter semi an aerob lebih cepat matang pada sampel ukuran partikel bubur yaitu 18 hari. Berdasarkan hasil pengujian laboratorium terhadap kompos yang telah matang yaitu kadar air, temperatur, warna, bau, ukuran partikel, pH, nitrogen, karbon, phospor, rasio C/N dan kalium, didapatkan nilai yang memenuhi atau sesuai dengan kriteria kompos organik yang diatur dalam SNI 19-7030-2004.

6 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Perencanaan Teknis dan Manajemen Persampahan Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya

2019•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kecamatan Pulau Punjung berada di Kabupaten Dharmasraya Provisi Sumatera Barat, yang memiliki luas wilayah 48.250 Ha dan jumlah penduduk sebanyak 49103 jiwa dengan administrasi pemerintah yang meliputi 6 (enam) nagari. Pengelolaan sampah di kecamatan Pulau Punjung masih rendah, sehingga harus di lakukan penanganan lebih lanjut seperti manajemen pengelolaan persampahan. Tujuan penelitian mengevaluasi sistem manajemen pengelolaan persampahan. Dari hasil penelitian di dapatkan proyeksi timbulan sampah pada tahun 2023 sebesar 2,36 l/o/h, di proyeksi menggunakan metode least square, komposisi sampah total untuk jenis sampah basah yang di dapatkan sebesar 52,32%, sampah kering sebesar 39,01%, dan sampah lain-lain sebesar 8,67%. Debit timbulan sampah yang di dapatkan sebesar 135.512 l/h. Dengan waktu pemindahan dari TPS di Kecamatan Pulau Punjung ke TPA Sitiung V Ragusa kurang lebih selama 2 jam/rit.

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Evaluasi Sistem Pengelolaan Sampah di Kecamatan Lubuk Kilangan

2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Kecamatan Lubuk Kilangan yang terletak dipinggir Kota Padang dengan luas wilayah 85,99 km2 dengan jumlah penduduk sebesar 54.525 jiwa pada tahun 2016. Dengan kondisi wilayah yang cukup jauh, tentu dalm proses pengelolaan sampah akan menjadi terkendala. Hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya sampah yang menumpuk di sumber maupun di TPS yang ada di Kecamatan Lubuk Kilangan. Agar permasalahn ini tidak berlangsung lama, maka dari itu perlu dilakukan evaluasi dari sistem pengelolaan sampah yang ada di kecamatan Lubuk Kilangan. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengatahui bagaimana sistem pengelolaan sampah di Kecamatan Lubuk Kilangan dimulai dari pewadahan, pemilahan, pengumpulan, pemindahan dan pengangkutan serta bentuk serta masyarakat dalam meminimalisir timbulan sampah di wilayah ini. metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metodologi kualitatif dan kuantitatif deskriptif dengan tujuan dapat mendeskripsikan fenomena yang terjadi. Hasil dari penelitian ini adalah dengan asumsi data timbulan sampah domestik sebesar 2,64 l/o/h berdasarkan wilayah pinggiran serta data timbulan sampah komersil sebesar 3,11 l/o/h dan sampah institusi sebesar 1,37 lo/h. Dari data tersebut didapatkan debit timbulan sampah domestik Kecamatan Lubuk Kilangan sebesar 143,96 m3/hr, sampah komersil 0,19 m3/hr dan sampah institusi 14,35 m3/hr dengan total debit timbulan sampah sebesar 158,50 m3/hr yang baru mencapai pelayan 60%. Agar semua sampah yang dihasilkan di Kecamatan Lubuk Kilangan dapat terkelola dengan baik maka perlu penambahan sarana prasarana seperti becak motor yang sebelumnya hanya tersedia 12 unit becak motor menjadi 79 unit dengan volume 1 m3, serta perlu dilakukan penambahan kontainer sampah yang sebelumnya hanya tersedia 6 kontainer menjadi 26 kontainer bermuatan 6 m3 serta penataan ulang titik penempatan TPS dan pembentukan TPST dengan harapan pelayanan akan lebih menjadi intensif diseluruhwilayah yaitu meningkat menjadi 80%. Namun penambahan sarana prasarana yang cukup banyak tentu akan membutuhkan biaya yang banyak juga, maka dari itu perlunya peran serta masyarakat untuk dapat meminimalisir sampah yang dihasilkan seperti melakukan pemilahan sampah terlebih dahulu di sumber, melakukan daur ulang dari sampah organik dan memanfaatkan kembali barang-barang bekas yang masih bisa digunakan untuk pembuatan pupuk kompos, pakan ternak, pupuk cair serta masih banyak penanganan yang dapat dilakukan sehingga dapat menutupi keterbatasan ketersediaan sarana prasarana di Kecamatan lubuk Kilangan. Dari komposisi sampah kota padang wilayah pinggiran kota dimana sampah organik sebesar 97,77% dan anorganik 2,23% sehingga didapatkan Komposisi sampah makanan sebesar 69,96%, sampah plastik sebesar 11,84%, kertas sebesar 7,39%, sampah halaman 6,67%, sampah tekstil sebesar 0,62%, sampah kulit sebesar 0,15%, sampah karet sebesar 0,83%.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Studi Evaluasi Kinerja Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah Regional Kota Payakumbuh

2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Sampah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah merupakan masalah besar di setiap daerah terutama di Indonesia. Timbulan sampah akan terus bertambah seiring dengan pertumbuhan populasi manusia serta semakin tinggi dan kompleksnya kegiatan manusia. Oleh sebab itu di perlukan adanya tempat pemrosesan akhir. TPA Regional Payakumbuh adalah tempat terakhir pengumpulan sampah dari 4 kota / kabupaten diantaranya Kota Bukittinggi, Kota Payakumbuh, Kabupaten Agam, dan Kabupaten Tanah Datar. TPA ini memiliki luas lahan yang terpakai kurang lebih 8 ha dengan sel sampah 2,5 ha dengan kapasitas sampah masuk perharinya sekitar 250 ton / hari. Menurut Permen PU No 3 Tahun 2013 timbulan 250 ton/hari sistem pengolahan sampah harus dengan metoda sanitary landfill. Namun TPA ini memiliki masalah dalam pengoperasiann lahan urugnya yakni masih menggunakan sistem open dumping sehingga tahun 2017 lalu terjadi longsor di lahan lurug. Tujuan penelitian ini ada 3 yakni untuk mengevaluasi sarana dan prasarana TPA, untuk mengetahui cara penanganan lahan pasca longsor dan perbaikan tanggul yang rusak. Sehingga dari hasil analisis di peroleh hasil penelitian yakni perlu adanya penambahan dan perbaikan sarana dan prasarana TPA Regional dan akan dilakukan pengangkutan sampah untuk lahan yang terkena longor ke lahan urug lama serta pembangunan tanggul baru di tempat terjadinya kerusakan tanggul.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Analisis Timbulan, Komposisi dan Potensi Daur Ulang Sampah di Kampus Politeknik ATI Padang

2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis timbulan, komposisi, dan potensi daur ulang sampah di kampus Politeknik ATI Padang dengan jumlah sampel dan metode sampling ditentukan berdasarkan SNI 19-3964-1994. Rata-rata timbulan sampah di kampus Politeknik ATI Padang adalah 0,0076 kg/o/h untuk satuan berat atau 0,0922 l/o/h untuk satuan volume. Berdasarkan sumber, diperoleh timbulan sampah fasilitas administrasi 0,1456 l/o/h, ruang perkuliahan 0,0106 l/o/h, fasilitas ukm 0,0865 l/o/h, fasilitas perpustakaan 0,0898 l/o/h, ruang dosen 0,1971 l/o/h, kantin 0,1442 l/o/h, laboratorium 0,1204 l/o/h, fasilitas ibadah 0,0353 l/o/h, dan halaman/taman 0,0847 l/m2/h. Komposisi sampah di kampus Politeknik ATI Padang didominasi oleh sampah kering 63,40 %, yang terdiri dari sampah kertas 26,49 %, plastik 28,24 %, tekstil 0,08 %, karet 0,40 %, kaca 0,38 %, logam 0,05 %, kaleng 0,95 %, dan lain-lain 6,81 % dan sampah basah 36,60 % yang terdiri dari atas sampah makanan 13,32 %, sampah halaman 23,07 % dan kayu 0,21%. Komponen sampah yang berpotensi di daur ulang adalah sampah kertas 60,41 %, plastik 94,85 %, kaca 57,50 %, sampah kaleng 100 %,sampah halaman 100 % , dan sampah makanan 82,80 %. Rata-rata potensi daur ulang sampah di kampus Politeknik ATI Padang sebanyak 74, 39 % yang terdiri dari potensi daur ulang sampah kering 52,05 % dan potensi daur ulang sampah basah 22,34 %.

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Studi Perolehan Biogas dari Sampah Organik dan Alga (Sargassum sp)

2017•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Studi Perolehan Biogas dari Sampah Organik dan Alga (Sargassum sp) Nama : Yulia Septriani NPM : 1310024428026 Pembimbing I : Hendri Sawir, ST, M.Si Pembimbing II : Eka Rahmatul Aidha, M.Pd RINGKASAN Aktifitas manusia dalam memanfaatkan alam selalu meninggalkan sisa yang disebut limbah. Sumber sampah berasal dari perumahan, pasar, beberapa kegiatan pertanian dan juga dari laut. Pemanfaatan sampah antara lain sebagai pupuk organik, misalnya kompos maupun bahan pembuat biogas dengan fermentasi anaerob oleh mikroorganisme. Biogas merupakan salah satu sumber energi alternatif yang berbahan baku dari bahan organik. Sampah organik merupakan sampah dari bahan-bahan yang dapat terurai. Alga merupakan tanaman laut yang keberadaannya masih banyak kita jumpai ditepi pantai. Teknologi biogas diproduksi melalui proses fermentasi bahan organik secara anaerobik oleh bakteri methanogen untuk menghasilkan gas methan (CH4). Proses ini tidak hanya menghasilkan gas tapi juga menghasilkan pupuk. Bahan baku dalam penelitian ini adalah sampah organik dan alga (Sargassum sp). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat apakah campuran dari sampah organik dan alga (Sargassum sp) dapat memproduksi biogas dan melihat komposisi yang tepat dalam perolehan biogas. Percobaan yang digunakan dalam penelitian terdiri dari dua tahap yaitu tahap pertama penambahan EM-4 20 ml pada suhu ruangan berkisar antara 25 0 C sampai 30 0 C, dengan rasio sampah organik dan air 100 ; 50, 100 ; 100, 100 ; 150, 100 ; 200, 100 ; 250. Tahap kedua yaitu dengan variabel penambahan EM-4 20 ml pada suhu ruangan berkisar antara 25 0 C sampai 30 0 C dengan rasio sampah organik dan alga 100 ; 0, 90 ; 10, 80 ; 20, 70 ; 30, 60 ; 40, 50 ; 50. Dengan pengamatan dilakukan setiap hari dilihat dari penambahan volume dalam pipet takar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio biogas yang dihasilkan paling banyak adalah 50 ; 50 (sampah organik dan alga) pada hari kelima sebanyak 3,8 ml.

6 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Analisis Briket Limbah Tempurung Kelapa dan Minyak Tanah Ditinjau Dari Nilai Kalori dan Keekonomisan di Kecamatan Sipora Utara Kabupaten Kepulauan Mentawai

2016•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

ABSTRAK Analisis Briket Limbah Tempurung Kelapa Dan Minyak Tanah Ditinjau Dari Nilai Kalori dan Keekonomisan Di Kecamatan Sipora Utara Kabupaten Kepulauan Mentawai Nama : Linda Defianti NPM : 1210024428002 Pembimbing I : Yaumal Arbi, ST. MT Pembimbing II : Sri Yanti Lisha, ST. M.Si Kelapa adalah tumbuhan yang hampir semua bagiannya bisa dimanfaatkan, terutama oleh masyarakat pesisir pantai. Sebagai daerah kepulauan, sebagian besar pesisir pantai Mentawai ditumbuhi oleh pohon kelapa. Menurut data dari pemerintahan daerah Mentawai tahun 2016, luas perkebunan tanaman kelapa di Mentawai adalah sebesar 7.910,75 ha dengan jumlah produksi 7.634 ton. Kelapa yang dihasilkan diolah menjadi kopra dan sebagian digunakan untuk konsumsi rumah tangga, limbah tempurung yang dihasilkan biasanya ditinggal begitu saja dan sampah rumah tangga dibuang ke laut, sehingga merusak perairan kelautan. Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk pengolahan limbah ini adalah mengelolanya menjadi briket. Briket dapat dijadikan sebagai bahan bakar, dengan hal ini permasalahan kelangkaan bahan bakar yang selama ini terjadi, bisa sedikit teratasi. Briket yang dibuat dari limbah tempurung kelapa memiliki nilai kalori yang tinggi. Dari hasil penelitian lapangan didapatkan nilai kalori untuk 1 kg briket 2.048 Kal/g dengan waktu pembakaran selama 3 jam 20 menit sedangkan nilai kalori untuk 1 L minyak tanah 3.193,75 Kal/g dengan waktu pembakaran selama 3 jam 19 menit. Hasil penelitian yang didapatkan dengan menggunakan bom calorimeter nilai kalori briket 7.486,5 Kal/g dan minyak tanah 11.039,5 Kal/g. Pada percobaan yang dilakukan di lapangan 1 kg briket bisa mendidihkan ± 33 L air dengan biaya Rp 50/L air sedangkan 1 L minyak tanah bisa mendidihkan ± 47 L air dengan biaya Rp 212,76/L air. Walaupun nilai kalori minyak tanah lebih tinggi briket tetapi dari segi harga dan ketersediaan bahan baku briket lebih ekonomis daripada minyak tanah. Apabila penggunaan briket diaplikasikan ke masyarakat maka banyak masalah yang teratasi seperti permaslahan sampah dan kelangkaan bahan bakar yang sering terjadi.

5 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail