Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

3 hasil
Subjek: Monitoring
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Analisis Konsentrasi Gas CO dan Temperatur Udara pada Tambang Bawah Tanah PT. Allied Indo Coal Jaya Kecamatan Talawi Kota Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat

2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Gas CO (Karbon monoksida) adalah gas yang tidak berwarna dan tidak berbau, tetapi sangat beracun bila terhirup dalam jumlah yang cukup besar atau dalam waktu yang lama juga mudah terbakar. apabila tidak adanya kajian khusus untuk Gas CO dan temperatur udara maka sewaktu-waktu bisa terjadi nya kecelakaan bagi para pekerja di dalam tambang tersebut dan akan mengakibatkan kerugian terhadap perusahaan itu sendiri dan bahkan kematian bagi para pekerjanya. Untuk menanggulangi hal tersebut maka dirancang dan dibangun alat yang mampu memantau dan memonitoring gas CO dan temperatur udara yaitu alat sensor gas CO dan Temperatur udara pada tambang bawah tanah berbasis Arduino Mega, sehingga didapatakan Gas CO terhadap waktu yang tinggi pada stasiun 1 yaitu sebesar 11,17 ppm dan yang rendah 9,80 ppm dengan persamaan y= -0.042x + 11.03 dan R² = 0.208. dan waktu terhadap temperatur udara yang nilai tinggi yaitu 24 derajat celcius dan yang terendah yaitu 22 derajat celcius dengan persamaan y = -0.035x + 23.55 dan R² = 0.051. pada stasiun 2 di dapatkan gas CO terhadap waktu yang paling tinggi yaitu 11,35 ppm dan yang rendah 6.90 ppm dengan persamaan y = -0.036x + 9.701 dan R² = 0.015 dan waktu terhadap temperatur udara pada stasiun 2 yang tinggi yaitu 24 derajat celcius dan yang rendah yaitu 20 derajat celcius dengan persamaan y = 0.046x + 21.69 dan R² = 0.028. Gas CO terhadap kecepatan angin yang tinggi pada stasiun 1 yaitu sebesar 11,17 ppm dan yang rendah 9,80 ppm dengan persamaan y = 3.938x + 7.152 dan R² = -4E-1. dan kecepatan angin terhadap temperatur udara yang nilai tinggi yaitu 24 derajat celcius dan yang terendah yaitu 22 derajat celcius dengan persamaan y = 19.33x + 5.867 dan R² = -3E-1. pada stasiun 2 di dapatkan gas CO terhadap kecepatan angin yang paling tinggi yaitu 11,35 ppm dan yang rendah 6.90 ppm dengan persamaan y = 3.740x + 5.298 dan R² = 8E-15 dan kecepatan angin terhadap temperatur udara pada stasiun 2 yang tinggi yaitu 24 derajat celcius dan yang rendah yaitu 20 derajat celcius dengan persamaan y = 7.491x + 13.82 dan R² = 4E-14

4 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Monitoring Temperatur untuk Mencegah Terjadinya Swabakar pada Temporary Stockpile PT. Miyor Pratama Coal Parambahan Kecamatan Talawi Kota Sawahlunto Provinsi Sumatera Barat

2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

PT. Miyor Pratama Coal merupakan suatu perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan batubara. Untuk memenuhi kebutuhan para konsumen, produksi harus sesuai dengan permintaan maupun prasyarat yang diinginkan pihak konsumen, terutama kualitas batubara harus sesuai dengan standar yang telah disepakati. Kurang efektifnya cara penanganan batubara pada stockpile, penumpukan batubara pada stockpile dalam jangka waktu yang cukup lama sering mengalami swabakar (spontaneuos combustion) dan batubara kwalitas rendah rentan mengalamiswabakar. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini, dilakukan suatu cara untuk mencegah terjadinya swabakar dengan melakukan monitoring temperatur pada tumpukan batubara perharinya, menggunakan alat pengukur temperatur (Thermo couple TM—902C Range -50˚C - 1300˚C), melakukan analisis dengan ambang titik nyala glow point batubara sesuai dengan kelasnya dan faktor yang mempengaruhi terjadinya gejala swabakar. Titik sampel tertinggi temperatur batubara tumpukan (A) Kalori 6500- 6800 hanya mencapai 60,6°C dan 60,9°C, titik sampel ini sudah melewati standar pengukuran suhu tumpukan batubara namun belum mengalami ignition point atau titik pembakaran dan gejala swabakar belum terjadi, titik ini mempunyai rata-rata temperatur timbunan yaitu 49°C dan 46°C. Namun pada tumpukan (B) Kalori 3000-4000 pada titik ini batubara telah terbakar dengan temperatur mencapai 132,4°C dan 160,4°C, titik sampel ini mempunyai rata- rata temperatur timbunan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan titik-titik sampel lainnya dan titik tersebut telah mengalami ignition point sehingga gejala swabakar terjadi pada titik ini. Gejala swabakar umumnya terjadi pada sisi kaki dari timbunan batubara. Hal ini terjadi karena ukuran butir yang relatif besar akan berada di sisi kaki timbunan batubara. Selain pada sisi kaki timbunan batubara, gejala swabakar juga terjadi di sela-sela penumpukan batubara akibat penanganan yang kurang sempurna pada saat melakukan penimbunan batubara.

6 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Analisis Pemantauan Pergeseran Bidang Diskontinuitas Menggunakan Crack Meter Sensor 2D VF_STTIND PT. Allied Indo Coal Jaya Kota Sawahlunto

2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Gerakan tanah adalah tidak kuatnya gaya lekat antar lapisan tanah untuk menambah perubahan massa dalam struktur tanah tersebut, gerakan tanah sangat berpengaruh di dalam dunia pertambangan khususnya gerakan tanah terhadap lereng yang memiliki bidang diskontinuitas yaitu rekahan (crack), apabila tidak adanya kajian khusus untuk lereng maka sewaktu-waktu bisa terjadi longsor dan akan mengakibatkan kerugian terhadap perusahaan itu sendiri. Untuk menanggulangi hal tersebut maka dirancang dan dibangun alat yang mampu memantau displacement lereng yaitu alat crack meter sensor 2D VF_STTIND berbasis komputer, alat ini mampu mengetahui displacement horizontal dan displacement vertikal. Penggunaan alat ini dengan cara monitoring langsung lereng dengan alat crack meter sensor 2D VF_STTIND sehingga didaptakan displacement horizontal dan displacement vertikal. Pada penelitian ini, alat crack meter sensor 2D VF_STTIND telah diuji coba di PT. Allied Indo Coal Jaya dimana hasil yang didapatkan dari monitoring selama 10 hari dengan 2 stasiun yaitu pada stasiun 1 didapatkan displacement horizontal sebesar 27 mm dan displacement vertikal sebesar 9 mm. Sedangkan pada stasiun 2 didapatkan displacement horizontal sebesar 38 mmdan displacement vertikal sebesar 17 mm. Hal ini terjadi karena dipengaruhi oleh adanya aktivitas penambangan seperti; pemuatan, pengangkutan, pengeboran, peledakan. Selanjutnya, dianalisis dengan regresi nonlinear yaitu polynomial sehingga menghasilkan persamaan y =±x2±x±c dan nilai R2 dengan y adalah displacement horizontal dan x adalah banyak nya melakukan pengukuran.

7 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail