ThesisOpen AccessMetadata saja
2022•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PT. Edco Persada Energi merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan yang terletak di Desa Pematang, Kecamatan Batang Peranap, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Berdasarkan pengamatan dilapangan diketahui bahwa stockpile yang sering mengalami swabakar adalah stockpile dengan timbunan raw coal. Hal ini disebabkan karena batubara yang berada pada timbunan raw coal ini memiliki grade Sub-bituminous yang memiliki kalori sebesar 4000-5000 kkal/kg yang ditimbun terlalu lama yaitu sekitar 3 bulan selain itu pada PT. Edco Persada Energi juga tidak pernah dilakukan pengecekan suhu dan dimensi timbunan hal inilah yang menjadi penyebab terjadinya swabakar pada timbunan. Tujuan dari penelitian ini adalah Menganalisis suhu, dimensi timbunan dan manajemen stockpile yang di terapkan pada PT. Edco Persada Energi dan menganalisis faktor yang mempengaruhi terjadinya swabakar di area stockpile PT. Edco Persada Energi. Dari hasil penelitan didapatkan Suhu rata-rata timbunan row coal berkisar antara 35,8oC sampai 50,2oC. Sedangkan suhu rata-rata timbunan screen coal berkisar antara 33,0oC sampai 41,2oC. Dan dimensi timbunan dilapangan yang berbentuk limas terpancung dengan tinggi timbunan 6 m, sisi bidang bawah timbunan 60 m, dan sisi bidang atas timbunan 30 m dengan sudut kemiringan 40o dan penyimpanan batubara pada stockpile untuk timbunan pada row coal adalah 6 minggu. Sedangkan pada timbunan screen coal lama waktu penimbunan adalah 3 minggu. Sedangkan manajemen stockpile yang ditetapkan pada PT. Edco Persada Energi untuk timbunan row coal adalah sistem first in late out (FILO) dan pada timbunan screen coal manajemen stockpile yang ditetapkan adalah sistem first in first out (FIFO). sistem first in first out (FIFO).
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PT. Bara Alam Utama merupakan perusahaan tambang batubara. Untuk mencapai target kebutuhan kebutuhan para konsumen produksi wajib memenuhi permintaan ataupun persyaratan yang di kehendaki oleh pihak konsumen. terutama kualitas batubara wajib sama dengan standar yang telah disepakati. Kurang efektifnya cara penanganan batubara pada stockpile, penumpukan batubara pada stockpile dalam jangka waktu yang cukup lama sering mengalami swabakar (spontaneuos combustion). Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini, mengindentifikasi sistem penimbunan dengan pola chevron dilakukan suatu cara untuk menimalisir terjadinya swabakar dengan melakukan monitoring temperatur pada tumpukan batubara perharinya, menggunakan alat pengukur temperatur (Thermo couple), melakukan analisis kapan estimasi terjadinya swabakar dan upaya menimalisir terjadinya gejala swabakar. untuk mengetahui kapan estimasi terjadinya swabakar dengan pola penumpukan chevron, tinggi stockpile 16.97 m, sudut kemiringan 50,47°C maka dilakukan pengukuran suhu tumpukan batubara secara berkala dengan pengukuran suhu pertitik dengan pemadatan mengunakan bulldozer. dimana estimasi terjadinya swabakar pada minggu ke-4, dan titik 4 memiliki temperatur yang paling tinggi yaitu 54,7°C. terdapat beberapa upaya untuk menimalisir tejadinya swabkar diantaranya mengurangi ketinggian stockpile, mengurangi sudut timbunan batubara, memadatkan permukaan timbunan batubara, penerapan prinsip FIFO (first in first out), dan monitoring temperatur stockpile secara berkala.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2021•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Swabakar merupakan permasalahan dalam industri pertambangan, penyebab swabakar dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik dari batubara. Faktor intrinsik yaitu karakteristik batubara terdiri dari kandungan volatil matter, moisture content, ash content, mineral matter dan kalori batubara, sedangkan faktor ektrinsik salah satunya adalah kondisi kecepatan angin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pola penimbunan batubara yang dapat meminimalkan terjadinya potensi swabakar (spontaneous combustion). Setelah dilakukannya pengamatan, maka didapatkan hasil bahwa nilai temperatur tumpukan batubara yang diuji dengan suhu pemanasan dimulai dari suhu 30°C, 50°C, 70°C, dan 85°C dengan menggunakan coal heating box.Dari pola tumpukan yang diamati didapatkan bahwa pola tumpukan pada pola tumpukan Cone Shell pada suhu 53ºC menimbulkan reaksi swabakar dan pada pola Chevron pada suhu 50ºC menimbulkan reaksi swabakar dan pada pola Chevcon pada suhu 53ºC menimbulkan reaksi swabakar dan pada pola Windrow pada suhu 85ºC baru menimbulkan reaksi swabakar pada kalori 4617 kkal/kg. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa bentuk tumpukan windrow lebih baik diterapkan untuk mengurangi potensi swabakar.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2019•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Daerah penelitian (PT. Bukit Asam, Tbk) berada di Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan. Tujuan dari penelitian ini adalah evaluasi manajemen stockpile batubara untuk mencegah terjadinya swabakar. Permasalahan yang sering di lapangan adanya swabakar pada stockpile batubara yang disebabkan oleh lamanya umur tumpukan batubara pada stockpile, Tingginya dimensi tumpukan batubara pada stockpile serta kurang baiknya penanganan batubara masuk dan keluar pada stockpile yang menyebabkan terajadi swabakar pada stockpile batubara di PT. Bukit Asam,Tbk. Swabakar ialah proses terbakar dengan sendirinya batubara akibat reaksi oksidasi eksotermis yang terus menyebabkan kenaikan temperatur. Metode yang digunakan pada penelitan ini ialah mendesain dimensi stockpile batubara yang ideal pada PT. Bukit Asam, Tbk serta menggunakan sistem manajemen FIFO (First In First Out) untuk manajemen penumpukan batubara pada stockpile batubara. Hasil dari penelitian ini didapatkan rancangan desain dimensi stockpile batubara dibuat dengan tinggi 7 meter sesuai dengan tinggi rekomendasi, sudut kemiringan tumpukan 35º dibawah dari sudut angle of repose dari tumpukan batubara serta untuk rancangan manajemen stockpile batubara menggunakan sistem manajemen FIFO (First In Frist Out) dimana batubara yang pertama kali masuk ke stockpile maka batubara itu harus dikeluarkan terlebih dahulu. Selain itu perlu adanya pengukuran temperatur secara berkala pada area stockpile batubara guna mengetahui kapan batubara akan terjadinya swabakar
ThesisOpen AccessMetadata saja
2019•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PLTU Teluk Sirih merupakan suatu perusahaan pembangkit listrik dengan sumber bahan bakar utama batubara. Permasalahan yang muncul pada Stockpile PLTU Teluk Sirih ini, sering terjadinya swabakar yang disebabkan karena kurang efektifnya penerapan sistem manajemen stockpile. Hal ini bisa dilihat pada kurangnya penerapan sistem manajemen FIFO (Frist In Frist Out), kurangnya penanganan terhadap lama timbunan yang lebih dari 3 bulan, ketinggian timbunan mencapai 10,87 meter yang seharusnya tidak lebih dari 6 meter untuk umur batubara lebih dari 1 bulan dan sudut kemiringan timbunan 56,48° yang melebihi angle of repose 38°, serta kurangnya pengontrolan suhu pada stockpile batubara PLTU Teluk Sirih. Maka perlu ditentukan nilai pengaruh dimensi timbunan terhadap suhu dan menentukan nilai pengaruh lama timbunan terhadap suhu. Upaya yang dapat dilakukan untuk perbaikan adalah menerapkan sistem manajemen FIFO dengan baik tanpa menyisakan batubara yang dapat diolah pada stockpile untuk mengurangi lama timbunan serta mengurangi batubara yang lama tertimbun kembali. Mengurangi ketinggian dan sudut kemiringan dengan cara melakukan pemadatan pada bagian atas dan samping setiap ketebalan 2 meter sekaligus mengurangi pori-pori timbunan dan melakukan pengontrolan suhu secara berkala minimal 1 kali sehari agar dapat diketahui titik timbunan yang sudah mendekati suhu kritis swabakar 50°C.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PT. Allied Indo Coal Jaya merupakan suatu perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan batubara. Permasalahan utama yang dihadapi dalam penimbunan batubara pada temporary stockpile adalah swabakar (spontaneous combustion). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pola penimbunan batubara yang dapat meminimalkan terjadinya potensi swabakar (spontaneous combustion) pada stockpile maupun temporary stock. Setelah dilakukannya pengamatan, maka didapatkan hasil bahwa nilai temperatur tumpukan batubara yang diuji dengan suhu pemanasan dimulai dari suhu 33°C, 38°C, dan 36°C dengan menggunakan inkubator yang diintegrasikan dengan thermostat tidak melebihi nilai temperatur ambang batas dan baku mutu yang diizinkan. Dari pola tumpukan yang diamati didapatkan bahwa pola tumpukan chevron merupakan tumpukan yang mempunyai potensi swabakar paling kecil dibandingkan dengan pola tumpukan chevcon. Suhu ratarata tumpukan batubara pada pola chevron adalah 39.9°C pada kalori 3000 – 4000 kkal/kg dan 39.3°C pada kalori 6500 – 6800 kkal/kg . Sedangkan suhu rata-rata tumpukan batubara dengan pola tumpukan chevcon selama penelitian adalah 41.15°C pada kalori 3000 – 4000 kkal/kg dan 39.96°C pada kalori 6500 – 6800 kkal/kg. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa bentuk tumpukan chevron lebih baik diterapkan untuk mengurangi potensi swabakar bila dibandingkan dengan bentuk tumpukan chevcon.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
PT. Miyor Pratama Coal merupakan suatu perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan batubara. Untuk memenuhi kebutuhan para konsumen, produksi harus sesuai dengan permintaan maupun prasyarat yang diinginkan pihak konsumen, terutama kualitas batubara harus sesuai dengan standar yang telah disepakati. Kurang efektifnya cara penanganan batubara pada stockpile, penumpukan batubara pada stockpile dalam jangka waktu yang cukup lama sering mengalami swabakar (spontaneuos combustion) dan batubara kwalitas rendah rentan mengalamiswabakar. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini, dilakukan suatu cara untuk mencegah terjadinya swabakar dengan melakukan monitoring temperatur pada tumpukan batubara perharinya, menggunakan alat pengukur temperatur (Thermo couple TM—902C Range -50˚C - 1300˚C), melakukan analisis dengan ambang titik nyala glow point batubara sesuai dengan kelasnya dan faktor yang mempengaruhi terjadinya gejala swabakar. Titik sampel tertinggi temperatur batubara tumpukan (A) Kalori 6500- 6800 hanya mencapai 60,6°C dan 60,9°C, titik sampel ini sudah melewati standar pengukuran suhu tumpukan batubara namun belum mengalami ignition point atau titik pembakaran dan gejala swabakar belum terjadi, titik ini mempunyai rata-rata temperatur timbunan yaitu 49°C dan 46°C. Namun pada tumpukan (B) Kalori 3000-4000 pada titik ini batubara telah terbakar dengan temperatur mencapai 132,4°C dan 160,4°C, titik sampel ini mempunyai rata- rata temperatur timbunan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan titik-titik sampel lainnya dan titik tersebut telah mengalami ignition point sehingga gejala swabakar terjadi pada titik ini. Gejala swabakar umumnya terjadi pada sisi kaki dari timbunan batubara. Hal ini terjadi karena ukuran butir yang relatif besar akan berada di sisi kaki timbunan batubara. Selain pada sisi kaki timbunan batubara, gejala swabakar juga terjadi di sela-sela penumpukan batubara akibat penanganan yang kurang sempurna pada saat melakukan penimbunan batubara.
ThesisOpen AccessMetadata saja
2018•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya swabakar dan cara pencegahan terjadinya swabakar yang terjadi pada areal stockpile batubara. Salah satu cara pencegahannya adalah dengan melakukan pengukuran suhu pada tumpukan batubara menggunakan alat sensor suhu, alat sensor suhu yang digunakan ialah sensor suhu STTINDMINE13 yang dirancang untuk mengukur suhu pada tumpukan batubara. Sampel penelitian ini ialah data hasil pengukuran suhu yang dilakukan pada tumpukan batubara, kemudian hasil pengukuran dimasukkan kedalam sebuah grafik untuk mengamati laju pergerakan suhu dan selanjutnya dilakukan analisa pergerakan suhu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pergerakan suhu yang diukur pada areal stockpile PT. Dasrat Sarana Arang Sejati dan PT. Allied Indo Coal Jaya menunjukkan suhu yang berbeda, dimana suhu tersebut berada pada kisaran 30ºC - 36°C. Kondisi suhu ini dipengaruhi oleh lamanya penumpukan, jenis batubara, manajemen stockpile dan cuaca.